All, Events

Bersamamu Mengejar Lailatulkadar

“Nak, ayo bangun!”

Kelak akan Ibu ucapkan kalimat itu, Nak, untuk membangunkanmu di tengah malam bulan Ramadan.  Lalu kita akan keluar rumah menerobos gelap dan dinginnya udara malam menuju sebuah masjid megah di pinggir kota. Kalau kamu tidak bangun juga, akan Ibu gendong saja. Kamu tetap harus ikut. Pada malam 10 terakhir Ramadan, orang-orang berlomba untuk meningkatkan ibadahnya, termasuk mengerjakan iktikaf di masjid, tak lain untuk mendapatkan keutamaan lailatulkadar. Kita juga akan melakukan hal yang sama. Fastabiqul khairat kata Pak Ustaz, berlomba-lomba dalam kebaikan. Mungkin nanti kamu akan tahu tentang hal ini, lebih dari yang Ibu tahu.

Saat kita sudah sampai masjid, akan Ibu tunjukkan pemandangan indah di sana. Lihatlah kubah masjid itu. Bersinar terang di antara dua menara yang menjulang. Setelah turun dari motor yang kita naiki, kita  akan berjalan menyusuri pelataran yang luas dan menuju beranda yang biasanya juga penuh orang. Di pelataran masjid akan kamu lihat kakak-kakak remaja yang bercengkerama, kadang mereka juga main bola, Nak. Mungkin untuk sedikit menyegarkan badan dengan menghirup udara di luar masjid yang sejuk dan mengurangi kantuk setelah berdiam lama di dalam masjid.

Jam 1 pagi. Udara di dalam masjid ini hangat. Mungkin kamu akan kaget. Akan kamu lihat banyak orang. Ada kakak-kakak yang mungkin masih sekolah SD, kakak-kakak yang sudah remaja, ibu-ibu, dan banyak juga nenek-nenek. Bahkan yang sebaya kamu juga ada, Nak.  Kamu tak perlu cemas dan takut, Nak. Ada sebagian dari mereka yang sedang tidur, tetapi lebih banyak mereka yang sedang sibuk beribadah. Ada yang shalat, membaca Alquran, ada pula yang sedang berdiam diri, berzikir dan berdoa. Ibu juga akan mengerjakan seperti yang mereka kerjakan. Kamu akan Ibu letakkan di samping Ibu. Tak apa kamu tertidur, karena Ibu yakin sesungguhnya pendengaranmu tetaplah dapat menangkap aura kekhusukan malam ini, menembus alam bawah sadarmu. Dan Ibu sangat percaya, ini akan menjadi pengalaman hidupmu, yang meskipun belum kamu mengerti saat ini, kelak akan kamu rasakan manfaatnya.

Kita cari tempat yang agak lega ya, Nak. Kita akan segera mulai momen indah bersama-Nya malam ini. Setelah shalat tahiyatul masjid, kita lanjutkan dengan shalat sunah taubat dan shalat hajat. Lalu kita akan mulai berzikir dan berdoa. Kita mohon ampunan Allah SWT untuk dosa-dosa yang telah kita lakukan. Tak usah heran jika kamu mendapati ibumu ini akan menangis di tengah banyak orang seperti ini. Ibu tak malu. Ibu sedang ingin berkeluh kesah pada-Nya, Nak. Ibu curahkan segenap keinginan Ibu dan tentunya Ibu ceritakan juga harapan-harapan Ibu untukmu. Salah satunya, Ibu ingin nanti kamu dapat beasiswa sekolah di luar negeri. Siapa tahu kamu bisa sekolah di Amerika. Di sana ada IMSA (Indonesian Muslim Society in America), Nak. Mereka mewadahi kegiatan masyarakat muslim Indonesia di sana. Jadi ibu tak akan khawatir mengenai kegiatan ibadahmu. Meskipun kamu ada di negara yang mayoritasnya nonmuslim, kamu akan tetap bisa menjalankan shalat tarawih, buka bersama, dan kegiatan lainnya bersama IMSA. Tak melulu hanya soal ibadah dan kegiatan agama, tetapi juga untuk program edukasi, juga kegiatan amal.

Selesai berdoa dan bermunajat kepadaNya, kita masih punya waktu sejenak untuk membaca Alquran. Nanti akan ibu ajarkan kepadamu membaca Alquran dengan tartil. Seperti orang tua yang lain tentunya Ibu juga berharap kamu menjadi penghafal Alquran yang kelak akan memakaikan mahkota untuk Ibumu ini di akhirat nanti. Ah Ibu jadi berkhayal, nanti kalau kamu sekolah di Amerika, kamu akan membuka kelas belajar membaca Alquran bekerjasama dengan IMSA. Ibu akan bangga jika kamu bisa melakukan itu. Akan ibu doakan kamu, Nak.

This slideshow requires JavaScript.

Nah, sebentar lagi akan ada ‘halo-halo’ dari panitia Qiyamullail di masjid ini, ceramah akan segera dimulai.  Yang tidur akan segera dibangunkan. Mungkin kamu akan merasakan kelebat orang-orang yang lalu lalang keluar masuk. Mereka ambil air wudhu, Nak. Jika ceramah sudah dimulai, maka Ibu akan menuntaskan bacaan Alquran yang ada di genggaman ini. Kita fokus mendengarkan ceramah. Bagaimana pun kita hormati orang yang sedang berbicara di depan. Apalagi ceramah, tentu yang disampaikan bisa kita jadikan pelajaran. Jangan egois dengan ibadah sendirian sedangkan ada ustaz yang sedang ceramah. Kita dengarkan orang yang sedang berbicara, maka kita juga akan didengarkan oleh orang lain. Itu prinsip.

Selesai ceramah sekitar jam 3, lalu kita akan bersiap Qiyamullail berjamaah. Momen ini tak kalah indahnya Ibu rasakan. Mendengar bacaan imam yang syahdu di keheningan pagi, di antara gerakan-gerakan rukuk dan sujud sebagai tanda dan bukti ketundukan serta kepatuhan kita kepada Allah. Kelak kamu akan merasakannya, Nak. Betapa nikmatnya ibadah ini. Betapa saat-saat seperti ini kita merasakan sangat dekat dengan-Nya, bebas berbicara kepada-Nya. Usai shalat tentunya Ibu berdoa lagi, Nak. Tak hanya untuk kita, namun untuk orang terdekat dan orang lain yang memang pantas untuk kita doakan. Nak, Ibu jadi membayangkan. Jika nanti kamu sekolah di Amerika, Ibu ingin sekali mengunjungimu dan menikmati Ramadan di sana. Ibu ingin merasakan iktikaf di sana, mengejar lailatulkadar bersama IMSA, karena kita bisa bertemu dengan sesama saudara dari Indonesia pastinya. Semacam reuni di negeri orang, pasti senang sekali. Sepertinya Ramadan dengan IMSA akan seru, pasti juga ada acara buka bersama di sana. Ah, ibu harus rajin mendoakanmu agar kamu berhasil mendapat beasiswa sekolah di sana.

This slideshow requires JavaScript.

Kamu tahu tidak, Nak, mereka dan Ibu melakukan ibadah ini, tak lain adalah untuk mendapatkan keutamaan lailatulkadar. Malam yang mempunyai keutamaan lebih dari seribu bulan. Makanya kita tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Memperbanyak ibadah di 10 hari terakhir Ramadan untuk mendapatkan kemuliaan karena siapa yang mendapati malam lailatulkadar akan mendapatkan pahala ibadah selama 1000 bulan. Kamu pun nanti akan tahu dan merasakan bagaimana suka duka dan tantangannya menjalani ibadah ini. Jika kita berhasil meraih keutamaan lailatulkadar, tentunya sebanding dengan usaha yang kita lakukan. Wallahu alam.

Nak, setelah ini, yang nantinya bisa kamu lihat adalah barisan mereka yang mengantre makan sahur di pintu keluar. Panitia di masjid ini memang sudah menyiapkan nasi kotak yang dibagikan kepada para jamaah untuk santap sahur. Kita tidak usah ikut antre. Kita pulang saja dan makan sahur di rumah, toh rumah kita dekat. Biar mereka yang datang dari jauh yang menyantap sahur di masjid ini. Biasanya memang mereka akan berada di sini sampai shalat Subuh. Setelah itu baru mereka pulang.

Salah satu yang membuat Ibu senang, Ibu amati saat ini sudah lebih banyak anak-anak muda yang semakin tergerak untuk datang ke masjid ini. Kamu pun nanti akan lihat, kakak-kakak yang main bola itu rajin sekali shalat malamnya. InsyaAllah mereka generasi muda pilihan, generasi muda pengejar lailatulkadar. Semoga kamu nanti jika sudah besar juga akan seperti mereka. Bisa menjadi panutan bagi teman-temanmu yang lain.

Nak, tidak semua orang menyadari keberadaan malam lailatulkadar. Belum tentu semua orang ingin mencari dan mendapatkannya. Tapi Ibu yakinkan kepadamu, bahwa ibadah di malam hari untuk meraihnya ini sungguh tidak sia-sia. Maka nanti kamu pun harus melakukannya ya, Nak. Barangkali ini lah sekelumit cerita Ibumu yang mungkin masih berupa khayalan untuk bisa mengejar lailatulkadar bersamamu. Sementara saat ini Ibu lakukan sendiri dulu. Tapi Ibu janji akan mengajakmu, menikmati malam-malam syahdu di bulan Ramadan itu. Ibu janji, Nak, jika kamu sudah hadir dalam hidupku.

***

Ramadan 1440 H, Momen iktikaf di Masjid Kubah Mas – Depok, Jawa Barat.

Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi blog IMSA dengan tema Ramadan Bersama IMSA. #RamadanIMSA2019

Tagged , ,

4 thoughts on “Bersamamu Mengejar Lailatulkadar

  1. dewi,

    bagus banget tulisan nya, doa di malam lailatulqadar pada alinea terakhir….

    selamat ya…dewi emank top ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *