All, Events

Sadar Gender untuk Memupus Pemahaman yang Salah Kaprah

sadar gender

Suatu kali saya pernah dengar keponakan saya yang masih TK bilang begini, “Aku kan cowok, jadi aku nggak nangis.” Saya pun secara nggak sengaja pernah dengar obrolannya dengan kakaknya saat sedang bermain, “Mbak Ara nggak usah takut, kan ada aku.” Dalam hati senyum-senyum aja sih, karena si Adik yang saat itu baru berumur 5 tahun sudah bisa bilang begitu. Sudah bisa menyatakan diri bahwa dia mampu melindungi kakaknya. Kenapa? Ya karena dia merasa sebagai laki-laki bertugas untuk melindungi perempuan, meskipun yang dilindungi lebih tua usianya.

Hmm, apa iya kalau cowok itu nggak boleh nangis? Lalu, apakah perempuan juga selalu harus ditempatkan sebagai pihak yang dilindungi? Tidak bolehkah perempuan yang mempunyai peran melindungi? Contoh lain dalam lingkup keluarga antara lain adalah peran ibu yang harus selalu mengurusi rumah tangga dan mendidik anak, sedangkan ayah mendapat hak istimewa untuk tak mengerjakan apa pun pekerjaan rumah. Begitu pun dalam dunia kerja. Laki-laki lebih banyak menduduki posisi strategis dibanding perempuan.

sadar gender

Pemahaman Salah Kaprah

Dalam ranah gender, sepertinya ini adalah salah satu dikotomi yang muncul dalam keseharian kita di masyarakat. Hal ini juga secara tak langsung telah menjadi kebiasaan dan dicontoh oleh anak-anak. Kebiasaan yang telah menjadi pemahaman yang salah kaprah. Pengotak-ngotakan peran antara laki-laki dan perempuan memang sudah berlangsung sejak dulu termasuk di dalamnya budaya patriarki di mana laki-laki mempunyai peran dominan atau mesti selalu ditonjolkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Budaya yang mengakar dalam masyarakat dalam pembagian tugas laki-laki dan perempuan ini dapat memberikan dampak yang luas baik secara psikologis maupun sosial. Tak jarang konflik terjadi karena perbedaan peran gender tersebut. Banyaknya tuntutan bahwa seorang laki-laki harus bisa melakukan suatu pekerjaan tertentu, sebaliknya, perempuan tak boleh melakukan kegiatan tertentu misalnya, juga dapat memunculkan masalah. Terjadinya intimidasi terhadap perempuan, posisi yang terpojok, selalu menjadi inferior. Lalu perempuan yang melulu dijadikan obyek bukan subyek, sehingga muncullah diskriminasi. Perempuan dilabeli sebagai makhluk yang lemah dan tak berdaya. Bahkan bagi perempuan sangat rentan terhadap kekerasan karena minimnya perlindungan saat menjalani pekerjaan di sektor informal, mendapat gaji lebih rendah atau tak bisa menduduki jabatan yang tinggi. Pemahaman salah kaprah inilah yang akhirnya membuat tatanan kehidupan yang kurang harmonis baik di dalam lingkup terkecil dalam keluarga maupun yang lebih luas di masyarakat.

Bias Gender di Media

Di dalam media juga masih seringkali terjadi bias gender. Diskriminasi terhadap pemberitaan terjadi dengan judul berita yang menyudutkan terutama posisi perempuan, misalnya saat ia menjadi korban perkosaan. Berita sering ditayangkan dengan kalimat-kalimat yang memojokkan sehingga justru korban yang banyak disoroti, bukan pelakunya. Berita seperti ini hanya mementingkan trafik yang tinggi, untuk dilihat oleh banyak pembaca, viral. Terkadang dengan pemberitaan yang seperti itu, yang menjadi korban malah semakin teraniya atau menjadi lebih tersudut posisinya.

berita bias gender

Upaya Sadar Gender

Permasalahan tersebut di atas tak akan terjadi apabila dalam masyarakat sudah ada kesetaraan gender. Perlu ada upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mewujudkannya. Di era milenial ini, media menjadi ujung tombak segala informasi. Peran media menjadi sangat vital dalam upaya menciptakan kondisi masyarakat yang sadar gender. Medianya sendiri juga harus ramah gender. Seperti apa?

1. Menyajikan informasi yang seimbang, tidak berat sebelah antara peran laki-laki dan perempuan.

2. Tidak mengkhususkan pemberitaan pada salah satu gender, misalnya perempuan, dengan membuat kolom atau rubrik khusus saja. Namun, perlu juga menyediakan ruang pemberitaan yang lebih umum dengan keseimbangan posisi gender, laki-laki dan perempuan.

3. Karena perempuan yang seringnya menjadi ‘korban” berbasis gender, maka sudah selayaknya media menempatkan perempuan sebagai subyek, bukan obyek. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat perempuan sebagai narasumber berita atau liputan, bahkan sebagai narasumber ahlii.

4. Pada perusahaan media, posisi perempuan sebaiknya juga ada di semua lini.

Kesadaran Masyarakat

Dengan dukungan media diharapkan masyarakat akan semakin sadar gender yang memupus pemahaman salah kaprah yang telah ada saat ini. Setidaknya masyarakat dapat belajar bahwa peran tak dikotak-kotakkan berdasarkan jenis kelamin, namun keseimbangan dari laki-laki dan perempuan. Kompromi peran antara laki-laki dan perempuan pada akhirnya akan memunculkan masyarakat sadar gender sehigga kesetaraan gender dapat mudah  tercapai. Apa hasilnya? Tentu saja kehidupan masyarakat yang lebih harmonis dan berkualitas.

***

sumber foto: salindia dari PPMN

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *