All, Arts, Events

Cakra Manggilingan – Sekelumit Waktu Bersama Bapak

Ada momen-momen tertentu dalam hidup yang kadang mengingatkanku pada suatu masa. Seperti saat menonton wayang bersama bapak beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja malam itu bapak ajak nonton, lalu memori-memori di masa lampau hadir kembali. Ini adalah sedikit cerita tentang sekelumit waktu bersama bapak, bagaikan roda yang berputar, cakra manggilingan. Mesin waktu pun kuhidupkan, menggali ingatan tentang kebersamaan sejak masa kecil dulu.

Bapakku Guruku

Bagiku, seorang bapak yang baik akan selalu mempunyai tempat istimewa di hati anak-anaknya, sebagai pribadi panutan dan teladan pertama yang ditemui di rumah.  Masa kecilku sendiri lebih banyak bersama bapak. Bukan berarti aku hanya punya sedikit waktu bersama ibu, tetapi jika dibandingkan, waktu bersama bapak lebih banyak kuhabiskan dibanding bersama ibu.

Salah satu yang membuat aku dekat dengan bapak adalah saat sakit aku selalu digendong dan dibawa keliling rumah. Ini tak akan pernah kulupa. Lalu bapak juga selalu ajak pergi ke mana-mana naik motor. Aku memang suka diajak pergi-pergi. Ke sekolah, bengkel, kebun, kantor dinas, dll. Sejak sebelum aku masuk sekolah pun hal ini sudah sering dilakukan. Kebetulan bapak dan ibu berprofesi sebagai guru SD, tetapi beda sekolah. Nah, saat masuk sekolah dan disuruh pilih sekolah yang mana, tentu aku pilih sekolah bapak. Biar apa? Biar bisa jalan-jalan naik motor terus. Modus anak kecil. 😀 Yang paling lucu sih pas kelas 4 SD diajar sama bapak. Guru dan murid serumah, nilai rapor diisi oleh bapak sendiri, pas ambil rapor ya dibawa pulang, ditandatangani sendiri, tetapi dijamin nggak ada nepotisme kok, hehe.

Bapak yang Multitalenta

Selain sebagai guru, bapak juga pencinta seni. Mungkin awalnya karena kewajiban untuk mewakili sekolah berlatih seni, tetapi kurasa itu sebagian kecil saja. Nyatanya kalau boleh aku sebut, bapak adalah seorang multitalenta. Bapak bisa menari, nembang (menyanyikan tembang macapat dan lagu jawa), panembromo (paduan suara tembang jawa), juga membuat seni drama dan tari. Terlebih bapak juga pernah menjadi dalang. Khusus yang ini bapak memang pernah ikut sekolah/belajar dalang. Bapak menyukai itu semua sebagai hobi.

Untuk hobi menarinya, bapak dulu lumayan sering dapat ‘job’ sebagai cucuk lampah alias penari pengantar pengantin menuju pelaminan. Selain itu kadang bapak mengajari muridnya menari untuk pementasan drama dan tari acara 17-an. Job lain bapak adalah sebagai pranata adicara alias MC pada acara resepsi pernikahan yang biasanya menggunakan adat Jawa jangkep (lengkap). Meskipun bisa menghasilkan uang, lebih dari itu aku yakin bahwa tujuan utamanya adalah untuk melestarikan seni dan budaya jawa. Entah mengapa bapak tidak mengajari aku menari tetapi justru aku les menari di tempat lain, hehe. Dulu bapak juga sempat bilang agar saat aku kuliah nanti mengambil jurusan seni tari. Tapi itu sih nggak kesampaian, haha.

Maestro Seni Buatku

Meskipun hanya bagian kecil dari penyuka dan pelaku seni, bagiku bapak adalah maestro. Bagaimana aku bisa menyukai seni jawa, tak lain juga karena beliau. Gimana nggak, kalau pulang sekolah tiap hari yang didengerin ya gending jawa, baik langgam (lagu) maupun gending tari. Semacam relaksasi setelah lelah mengajar. Aku juga diajari nembang macapat, sampai diikutkan lomba tingkat kecamatan, haha. Sayangnya nggak menang. Sampai sekarang masih ingat tembang yang dulu kunyanyikan saat lomba.

Kecintaan bapak pada seni juga terlihat pada saat membuat gamelan. Ya, membuat. Waktu itu aku nggak terlalu ngerti, ini bapak beli tong dan besi sebanyak itu mau buat apa. Ternyata, bikin gamelan. Sedikit demi sedikit, besi-besi itu dipotong, kayak pandai besi gitu, dipukul-pukul besinya, yang pasti bising banget di rumah. Eh ternyata, jadi itu gamelan seperangkat, yang akhirnya dipakai untuk latihan warga desa. Bapak juga yang melatih. Sampai detik ini pun, bapak masih mau melatih gamelan, sayang, sudah nggak ada lagi warga yang berminat. Warga kampung yang usianya muda sudah habis merantau ke kota. Padahal ada gamelan nganggur.

Gamelan buatan bapak, hayoo aku yang mana…

Kalau untuk dalang sebenarnya aku nggak terlalu tahu seberapa sering bapak mendalang. Yang kutahu, pernah beberapa kali. Di rumah pun pernah ada pementasan wayang kulit, pas dulu kakak dikhitan, hehe, tapi bukan Bapak yang mendalang. Saking cintanya dengan wayang, nama anak-anaknya pun diambil dari nama tokoh wayang semua, Ananto Wibisono, Dewi Setyowati, dan Woro Tri Wijananti. Yang kuingat, terakhir bapak mendalang adalah waktu aku kuliah. Sempat foto berdua sama bapak kala itu. Sayangnya sudah ngubek-ngubek foto lama, tapi nggak ketemu. Aku nggak terlalu minat sama wayang kulit karena susah menghafal tokohnya yang bentuknya mirip-mirip. Jadi meskipun bapaknya dalang, anaknya ini nggak ngerti wayang.

Menonton Wayang

Kamis malam, tiba-tiba bapak bilang kalau ada pertunjukan wayang kulit di Ambarawa. Dalangnya yang lagi hits, Ki Seno Nugroho, dalang asal Yogyakarta. Deal, aku ajak bapak nonton. Bapak pengajian dulu di masjid, sementara aku selesaikan dulu malam Pantun Ria di grup WA Kubbu. Jam 10.30 akhirnya cuss berangkat, naik motor berdua. Aku boncengin Bapak. Kami menembus gelapnya malam yang dingin. Sepi sekali jalanan. Oh iya, ini di desa. Sesampainya di tempat, kami pun merangsek maju.

Wayang sudah dimulai, dan saat itu sedang berlangsung yang namanya Limbukan, yaitu saat sinden menyanyikan langgam-langgam. Gils, sindennya 10, pantes lama. Mana ada selingan penonton yang ikut nyanyi pula. Selesai limbukan, dalang mulai memainkan wayang lagi. Adegannya adalah saat Batara Indra memanggil Semar karena tidak mau menyembah Mahaguru (dewa). Eh tapi malahan yang maju si Bagong, dan menantang Batara Indra.  Adegan yang dikemas sangat lucu tersebut sudah pasti riuh dengan gelak tawa penonton. Apalagi Bagong yang dengan seenaknya memanggil Batara Indra dengan sebutan ‘Ndro’ macam gayanya warkop DKI. Aku pun jadi tertarik nonton wayang dengan dalang Ki Seno ini. Hampir setiap scene adegan, aku selalu nanya Bapak, itu tokoh siapa. Maklum, nggak pernah hapal.

Jam 2 pagi, kita memutuskan pulang. Ini pertama kali nonton Ki Seno, cukup lah, nanti kapan-kapan bisa nonton lagi. Saat kutanya komentar bapak, istilah dalangnya keluar. Bapak bilang, ‘sabetan’ dan ‘antawacana’nya bagus. Sabetan adalah bagaimana cara dalang menggerakkan wayang, bagaimana ia memegang, memerankan gerakannya, seberapa cekatan memainkan wayang dengan tangannya. Sedangkan antawacana adalah bagaimana dalang membawakan dialog sesuai peran, narasi cerita, dan segala tentang ucapan dalang dalam cerita tersebut.  Hmm, lumayanlah nambah pengetahuan buatku.

Cakra Manggilingan

Momen nonton bersama bapak inilah yang membuatku mengingat bahwa roda kehidupan itu berputar. Dulu waktu kecil, aku yang diajak bapak nonton malam-malam dan aku selalu mau. Nonton wayang, kethoprak, reog, dll. Sama, berangkatnya sekitar jam 10 malam. Bedanya, aku yang bonceng Bapak. Meskipun aku nggak pernah tahu jalan ceritanya, ya nonton aja. Bahkan seringnya ketiduran. Kalau nonton sama Bapak, biasanya dapat tempat spesial, bukan di area penonton umum. Bapak banyak kenal para pemainnya, jadi bisa dapat tempat nonton dekat pemain gamelan atau atau di kursi tamu.  Dulu, ke mana-mana aku naik motor duduk di tangki bensin di depan. Sekarang, aku duduk di depan juga sih, tapi boncengin Bapak. Dulu aku yang dibonceng Bapak ke mana-mana, sekarang aku yang antar Bapak ke mana-mana.

Puisi berjudul Cakra Manggilingan, karya Anda Wardhana

Ya, kehidupan ibarat roda yang berputar. Bisa di atas lalu di bawah, atau di samping.  Yang dulu pernah kita lakukan bisa jadi dilakukan oleh orang lain. Yang dulu orang lain dapatkan, bisa jadi sekarang kita dapatkan. Cakra Manggilingan. Cakra yang berarti roda, Manggilingan, dari kata giling, yang berarti berputar. Esensi cakra manggilingan adalah waktu. Kita bisa banyak belajar dari sini, bahwa perubahan selalu terjadi dan waktu memegang peranan penting, agar kita bisa selalu siap dalam setiap keadaan, baik atau buruk. Pun agar kita selalu mempersiapkan diri untuk tidak terlalu larut dalam setiap kebahagiaan ataupun kesedihan. Yang paling penting adalah kita bisa belajar dan memahami yang telah terjadi di masa lalu, saat ini dan yang akan kita lakukan untuk masa mendatang.

Marcapada, 3 November 2019

Barakallah selalu untuk Bapak: Saban Puratno Soewito, dan Ibu: Sukarsih Soewito Tanoyo.

Tagged , , , , , ,

77 thoughts on “Cakra Manggilingan – Sekelumit Waktu Bersama Bapak

  1. Aku baca ini haru. Ingat almarhum simbah dan bapak yang mirip sama bapaknya Mbak Dewi. Suka gamelan, wayang, dan segala jenis budaya Jawa. Mungkin gen ini juga yang nurun ke kita ya, Mbak.

  2. Sebagai anak yang ngga deket sama bapak, aku seneng lihat keseruan Mbak Dewi quality time bersama bapak. Aku paling suka bagian nonton wayang, seneng sekali bisa dapat privilege nonton dekat dengan pemainnya. Semoga bapak sehat selalu.

  3. Salam buat bapaknya mbak. Semoga sehat selalu. Aku bacanya sambil membayangkan, larut dalam cerita tersebut.

    Puisi Cakra Manggilingan juga bagus. Mengandung banyak petuah dan nasihat.

    “Lakoni saja
    Semua sudah sempurna
    Semua sangat sempurna”

    :’)

  4. Mengagumkan sekali Bapakmu mbak, menularkan kecintaannya pada budaya Hawa kepada anaknya. Salam hormat saya untuk beliau ya Mbak. Rasanya bukan sekedar sekelumit waktu bersama Bapak tapi… inspiring time with my beloved father. Do you agree ?

  5. Duhhh nangis bacanya, langsung keingat bapak yang udah gak ada. Seru banget ya mba akrab ama ayah mba Dewi. Semoga makin banyak waktu yang dilewati bersama, utk cerita kelak.. sekelumit waktu bersama ayah yang sangat luar biasa. Ahh ntr bikin ginian jga dehh biar ada kenangan nyata… Thank you inspirasinya mba Dew.

  6. Sebelumnya, aku doakan untuk Bapaknya Mbak Dewi semoga sehat dan bahagia selalu yaa 🙂
    Salam kenal dari Kartini, Pak.

    Tidak heran ya Mbak, darah seni Jawanya turun dari Bapak.
    Hmm, kalo boleh tebak foto: Mbak Dewi yang ceritanya ‘candid’ itu kan.. hehe padahal emang candid, yaa.
    Oiya, menonton wayang dengan seseorang yang sama-sama menyukai wayang itu bahagia banget sih, Mbak..

    Juga, tentang Puisi berjudul Cakra Manggilingan, bener banget Mbak apa yang kita alami, bisa saja dialami oleh orang lain vice versa. makanya hidup tidak perlu ada yg disombongkan yaa, karena bila waktu sudah bicara… kita bisa apa 🙂

  7. Ngebayangin ngasih nilai sendiri, dan ambil rapot sendiri kok pegen ngakak ya mbak haha
    Pantes aja Mbak Dew Multitalenta dan suka seni, ternyata nurun dari Bapak toh. Salam untuk Bapaknya Mbak Dew, semoga selalu diberikan kesehatan. Haru aku tuh bacanya

  8. Terima kasih Mba tulisannya… Saya jadi berkaca, harusnya bisa lebih dekat sama anak2 saya. Perempuan gitu ya mba, harus digendongw aktu sakit dan sering diajak jalan2, biar ingat terus. Thanks ya mba!

  9. Huhuhu auto meweks
    jadi inget Bapakku yang kondisinya enggak terlalu bagus lagi.
    Kusuka pesannya, mbak Dewi, kita bisa belajar dan memahami yang telah terjadi di masa lalu, saat ini dan yang akan kita lakukan untuk masa mendatang. Tak perlu terlalu larut dalam kebahagiaan dan kesedihan
    Semoga Bapak Ibu sehat selalu ya, Mbak

  10. Dari kecilnya ajah udah di kenalkan sama seni budaya jawa, gak heran kalo Mba Dewi ikut melestarikan seni budaya jawa juga. Semoga bisa ditularkan ke anak cucunya kelak ya, Mbak 😊.. Kebersamaan bersama bapak yang takkan terlupakan, semoga orang tua kita diberikan kesehatan selalu ya, Mba

  11. Sebenernya aku juga tertarik sama wayang, tapi belum ada kesempatan buat nonton..
    Nice info, buat sabetan dan antawacanan-nya..hehe..

    Gw yang ngga suka puisi, tapi suka pas baca puisi Cakra Manggilingan yang ada di dalem foto itu..
    Terutama kata-kata “semua sangat sempurna, semua sudah sempurna”..
    Gw ngga tahu pasti apa maksud penulisnya pas nulis kata-kata itu, tapi gw pribadi berasa kayak mirip dengan filosofi “flow state”..

    Btw, nice article 🙂

    1. Wah, Kak kapan-kapan yuk nonton bareng, aku juga masih belajar tentang wayang malahan wkwkw. Nonton wayang kulit waktu itu di TMII juga karena ada translate-nya di layar, meskipun justru translate bahasa Inggris, itu membantu untuk tahu tokoh-tokohnya siapa. Hehe..

      Iya, aku sendiri memaknainya bahwa apa yang terjadi saat ini ya dijalani saja, semua sudah sempurna diatur olehNya. Tak ada yang sia-sia. 🙂

  12. Mba dew sebelas dua belas nih sama bapak nya, suka seni dan mba dew pun multitalenta, sehat-sehat terus buat bapaknya, jadi cakra manggilingan tuh roda berputar, seperti kehidupan ini yak

  13. Jadi kangen sama Bapakku.
    Kenangan masa kecil selalu tak akan terlupakan ya Mba. Anak wadon selalu dekat dengan Bapaknya.
    Kadang masih suka nangis kalau keinget sama Almarhum Bapak hiks.

  14. Aaahhh aku terharu bacanya mba dew, selalu ada cerita dengan Bapak itu romantis.
    Semoga selalu diberikan kesehatan buat ayahanda ya mba. Amin ya robbal alamin.
    Btw aku udah lama banget enggak nonyon wayang, terakhir pas masih kecil. Itupun selalu sebentar nontonnya, karena terlalu malam tampilnya. Hehehehe

  15. Huhu jadi keingat Papaku. Semoga Bapak Kak Dewi dan Papaku selalu diberikan kesehatan ya.
    Apakah semua ayah iru emang harua selalu sempurna begitu ya, serba bisa semuanya. Aku kadang suka memikirkan itu. Ah beruntungnya kita punya Ayah yang hebat hebat 💗

  16. Puisi Cakra Manggilingan sarat dengan filosofi kehidupan ya.
    Membaca tulisan mba Dewi membuat aku teringat alm.bapakku.
    Bedanya bapak mba Dewi pencinta seni sejati ya..makanya mba juga menyukai seni.
    Bapakku lebih ke traveling jadi aku juga menyukai traveling.
    Memang indah saat saat bersama mereka.

  17. Aku suka kagum kalau baca tulisanmu tentang seni Jawa dan, Mbak. Ternyata itu semua menurun dari Bapak ya.

    Istilah Cakra Manggilingan pun aku baru dengar, karena selama ini hanya tahu hidup itu bagaikan roda yang berputar.

    Semoga Bapak sehat terus ya. Dan Mbak Dewi tetap semangat melestarikan seni Jawa.

  18. Mbak Dew, aku mrembes mili mocone. Aku belum di fase gantian sih sama Papa. Masih aja ada di fase anak perempuan kesayangan Papa. Aku juga termasuk yang nempel bgt sama Papa. Sampe kadang mamaku cemburu

  19. Ya ampun aku terharu bacanyaa.. mbak dew salam buat bapak semoga sehat selalu.. jadi kangen ayah saya jugaa.. walaupun aku masih tetep dibonceng bapak kalo naik sepeda tapi selalu suka dibonceng bapak selalu berasa nostalgia jaman kecil. Apalagi sekarng diboncengnya kalo pas mudik aja.

  20. Aku baca tulisan mu ini mbak dew bikin hujan tiba2… Aku rindu sekali dengan alm. Bapakku..
    Anak perempuan dimana-mana emang lebih deket sm seorang bapak yaa, sehat selalu ya mbak tuk bapak mbak dew..

  21. Kalau saya lebih dekat sama ibu….
    Dulu sama bapa takut ….

    Tapi kalau sekarang kadang suka ngebayangin, kalau beliau masih ada, pasti akan menjadi teman diskusi ku…

    I Miss u dad

  22. Aku suka dan terharu dengan ceritamu bun 🙂

    Darah seni bapakmu nurun ke kamu yaa bun. MasyaAllah…

    Oiya, itu pas wayang dialog nya full bahasa Jawa yaa bun? Dan cerita yang disampaikan Ki Seni itu buatan Ki Seni sendiri nggih?

    Kalau mau nonton wayang yang full bahasa Jawa tapi ada translate Bahasa Indonesia nya juga dimana bun? hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *