All, Travel

Jalan-jalan ke Purwakarta, Murah dan Menyenangkan

Pada akhir bulan Agustus lalu, saya dan dua teman saya, Kak Yun dan Mbak Nunik jalan-jalan ke Purwakarta. Sebetulnya sudah beberapa minggu sebelumnya kami planning untuk backpacker-an ke Purwakarta, setelah mendengar cerita keseruan trip Purwakarta Kak Yun. Kami diiming-imingi beberapa spot bagus untuk didatangi, termasuk indahnya air mancur Sri Baduga yang terkenal itu. Akhirnya, menjelang weekend itu Mbak Nunik pun ‘ngomporin’ lagi agar kita jadi jalan-jalan. Antara mau jadi dan enggak jadi. Pasalnya sehari sebelumnya saya sempat sakit perut dan nggak yakin apakah bisa ikut. Tapi akhirnya jadi juga sih keputusan bulat -yang dadakan kayak tahu itu- untuk menghabiskan  akhir pekan di Purwakarta.

Perjalanan ke Purwakarta

Kami memang sudah kangen jalan-jalan bertiga. Semenjak ikut trip bareng ke Jogja hampir setahun lalu, kami jadi sangat akrab. Pun akhirnya geng kita bertiga ini kita namakan Bidadari Taman Sari atau Trio Ratu Boko, gara-gara pas trip ke Jogja kita malah kabur duluan ke dua tempat itu, berpisah dari rombongan, hahaha. Kebetulan kami tergabung juga di komunitas yang sama, Klub Buku dan Blogger (Kubbu) Backpacker Jakarta.  Layaknya trip resmi dari Backpacker Jakarta, maka trip ini pun ada CP alias Contact Person-nya. Siapa lagi kalau bukan Kak Yun, hehehe. Sehari sebelumnya Kak Yun sudah membuat itinerary, rencana tempat menginap, dan estimasi biayanya. Mungkin bisa dibilang trip ini adalah trip backpacker grup terkecil, 1 CP dengan 2 peserta. Bisa masuk rekor MURI nggak tuh, hahaha.

Sabtu pagi itu kami janjian di stasiun Tanjung Priuk. Jadwal kereta ke Purwakarta jam 9:50. Tiketnya murah sekali, 6000 rupiah saja per orang. Keretanya kelas ekonomi AC tetapi tempat duduk tidak ditentukan. Jadi memang ada penumpang yang berdiri juga. Cukup nyaman lah untuk perjalanan selama 3 jam ke Purwakarta. Sepanjang perjalanan kami mengobrol dan tentunya nggak lupa ngemil. Jajanan seplastik udah kami bawa. Jam 1 siang kami tiba di stasiun Purwakarta. Kami pun langsung menuju warung sate maranggi yang ada di dekat pintu keluar stasiun. Sate Maranggi dan Sop Bang 3, begitu judul warungnya. Salah satu tujuan ke Purwakarta ya untuk makan sate khas daerah ini, sate Maranggi. Kami pesan sate maranggi 2 porsi plus nasi liwet, sop, dan es kelapa muda. Sate Bang 3 ini lumayan enak, bumbu kecapnya khas, beda dengan kecap biasa.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai makan siang, kami cari penginapan dulu. Biar tenang jalan-jalannya. Kak Yun sih sudah browsing penginapan yang dekat, sayangnya nggak bisa booking secara online. Mau nggak mau kami cari penginapan on the spot. Kami pun menyusuri jalan raya dekat stasiun dan menemukan penginapan sederhana. Namanya pun hotel Sederhana. Alhamdulillah masih ada kamar kosong. Kamarnya ber-AC dan lumayan lega, cukup untuk kami bertiga dengan 1 king bed dan 1 single bed di dalamnya. Harga kamarnya Rp. 300.000,- per malam. Kami langsung check-in saat itu juga lalu istirahat.

Gagal Nonton Air Mancur Sri Baduga

Sore harinya kami baru start jalan-jalan. Kami menuju area taman air mancur Sri Baduga, letaknya di daerah Situ Buleud. Karena jadwal pertunjukan air mancur malam hari, maka kami jalan-jalan di sekitar lokasi terdekat. Kami menyusuri taman Pancawarna dan taman Mayadatar. Ramai juga di taman tersebut. Banyak warga yang sekadar duduk-duduk, bermain bersama anak, juga muda-mudi yang berfoto. Kami berkeliling dan sampai di masjid Agung Baing Yusuf. Karena waktu maghrib belum tiba, kami kulineran dulu di sekitar masjid. Kami makan sate Maranggi lagi, beli dari tukang sate keliling yang sedang mangkal. Kali ini satenya disajikan dengan ketan bakar. Hmm enak banget, hehe.. Selain itu, kami juga beli cilok dan es jeruk.

This slideshow requires JavaScript.

Usai shalat maghrib kami segera menuju kawasan taman air mancur Sri Baduga. Sudah ramai orang di sana. Maklum malam minggu. Setelah berfoto sebentar, kami pun mencari pintu masuk ke dalam air mancur. Sudah berkeliling tapi nggak ketemu juga. Kata Kak Yun ada pintu tertentu yang dibuka. Tapi malam itu enggak. Kami pun bertanya kepada salah satu petugas yang kami temui dari balik pagar, kok pintu belum dibuka. Daan ternyata, malam itu nggak ada pertunjukan karena debit air menurun, tidak cukup untuk bisa menayangkan air mancurnya. Hoho..Kecewa? Pasti. Apalagi Mbak Nunik, kayaknya dia mau nangis deh, haha.. Mbak Nunik yang berharap banget bisa nonton air mancur terbaik se-Asia Tenggara itu. Saya sih biasa aja, belum rezeki ya nggak apa-apa, lain waktu bisa datang lagi, hehe. Sedangkan Kak Yun sudah pernah 2 kali nonton. Akhirnya kita putuskan untuk langsung menikmati kuliner malam di sepanjang jalan di kawasan Situ Buleud. Mbak Nunik masih kesal. Sepanjang jalan dia menggerutu. Kami memang nggak tahu di mana harus cek informasi ada atau tidaknya pertunjukan malam itu. Jadi ya, untung-untungan memang.

Kuliner Malam

Jelajah kuliner pun kita mulai. Di sepanjang jalan segala macam makanan ada, tapi kami sih lebih banyak lihat aja karena sebenarnya masih agak kenyang. Kami putuskan untuk makan seblak. Lumayan lengkap topping yang bisa dipilih. Untuk sedikit menghibur Mbak Nunik, sambil makan seblak Kak Yun meminjamkan HP nya berisi video rekaman air mancur Sri Baduga yang sudah pernah ditonton. Jadi juga lah ya nonton air mancurnya, meski lewat HP, haha.. Setelah itu, kami jalan lagi, icip-icip cheese cake enak murmer yang gagal kami beli karena nggak ada kulkas di hotel dan nggak mungkin dibawa ke Jakarta. Kebetulan di dekat situ juga sedang ada pasar malam. Kami pun masuk dan berkeliling. Hasilnya, beli kaos kaki murah meriah. Mau beli kaos kaki aja kok ya ke Purwakarta, hahaha. Di dalam pasar malam kami melihat anak kecil makan jajanan mirip es krim tapi berasap gitu. Kami pun penasaran dan akhirnya beli. Ternyata itu bukan es krim tetapi snack semacam momogi yang diberi susu kental manis dan dikasih nitrogen cair. Lucu sih, setiap suapan kita bisa mainin asap nitrogen yang dingin itu.

This slideshow requires JavaScript.

Destinasi kuliner selanjutnya adalah kedai kopi Stasiun Kopi. Kami istirahat sejenak sambil numpang nonton pertandingan badminton Asian Games. Kak Yun minum kopi dan pesan singkong keju. Selesai dari kedai kopi, Kak Yun sebagai CP sudah mengarahkan peserta untuk pulang ke penginapan. Tapi apa daya, saya dan Mbak Nunik masih pengen makan, haha.. Kami memang begitu sih, dikit-dikit minta berhenti, minta makan, hehe. Untung CP-nya sabar. Saat jalan menuju pulang ke penginapan, kami minta berhenti untuk makan sate maranggi lagi. Jadilah kami makan sate maranggi yang ketiga kalinya. Setelah puas makan, baru pulang dan istirahat.

Bale Panyawangan

Esok harinya, agenda kami adalah mengunjungi museum Bale Panyawangan Purwakarta. Karena baru buka jam 10 pagi, kami jalan-jalan lagi ke taman Mayadatar. Rencananya kami mau ke museum Wayang juga di dekat taman, tapi sayangnya hari itu museum ditutup. Saat melewati taman air mancur Sri Baduga, ternyata pintunya dibuka. Kami pun ngobrol dengan petugas dan masuk untuk berfoto sebentar. Tak lupa Mbak Nunik foto sambil duduk di bangku penonton, seolah-olah lagi nonton air mancur. Halu banget ya, haha. Biarin aja lah asal dia senang, hehe. Kami dapat info dari petugas, ada atau tidaknya pertunjukan air mancur bisa kami cek di laman facebook Taman Air Mancur Sri Baduga. Ok deh, next time bisa cek dulu jadwalnya.

Pura-pura aja ada air mancurnya ya Mbak, hehe..

Dari taman, kami berjalan memutar ke arah museum Bale Panyawangan Diorama Nusantara. Bangunan museum terlihat sederhana dari luar, tapi pas masuk isinya wow. Bale Panyawangan ini boleh dibilang museum digital karena penyajian informasinya sarat dengan perangkat digital. Di dalam museum ini ada 9 bale yang menyajikan sejarah tatar Sunda dan juga nusantara. Semua didukung oleh teknologi digital. Ada interactive book yang setiap kita buka halamannya, langsung bisa kita dengarkan audionya. Display digital lainnya juga banyak. Ruangan yang ada di dalam museum ini juga photoable banget. Bayarnya berapa masuk museum ini? Nggak bayar alias gratis. Asik kan? Saya akan ulas tentang museum ini di tulisan lain saja.

This slideshow requires JavaScript.

Sekitar jam 11.30 kami keluar museum dan harus bergegas karena jadwal kereta kembali ke Jakarta jam 13.40. Kami makan siang dulu dan tetap pilih makan sate maranggi lagi di warung sate Bang 3 stasiun. Ini adalah kali keempat makan sate maranggi selama 2 hari di Purwakarta. Bukan karena nggak ada pilihan, tetapi selain karena tempatnya dekat, kami memang masih pengen makan sate lagi. Belum puas juga, kami bungkus sate masing-masing 2 porsi buat dibawa pulang ke Jakarta, haha.

Begitulah cerita perjalanan bidadari taman sari ke Purwakarta. Bagi kami trip ini memang istimewa di antara kerempongan yang ada. Yang terpenting adalah bisa jalan bareng bertiga, sharing berbagai hal, dll. Buat yang mau hemat budget dan nggak pengen trip yang jauh-jauh, bisa dicoba jalan-jalan ke Purwakarta, murah dan menyenangkan. Ke mana pun dan berapa pun biayanya, bagi saya setiap perjalanan punya cerita sendiri dan selalu memberikan pelajaran.

47 thoughts on “Jalan-jalan ke Purwakarta, Murah dan Menyenangkan

  1. Walah, kemaren pas ke purwakarta aku malah nggak nyicipin sate maranggi. Padahal pengen nyoba makan sama ketan bakarnya.. 😅😅

    Mungkin lebih tepat trip ini disebut “Maranggi Skewer Trip” 🤣

  2. Tiga bidadari perlu sesekali diculik ke tempat wisata yang jarang ada kulinernya, biar gak sering berhenti dan jajan. Contohnya trip ke laut, bukan kenyang yang di dapat, paling mabuk laut hehehe…

  3. Ahh baca ini jadi rindu Purwakarta juga, aku pernah nginep sampe beberapa hari di Purwakarta tapi belum ke Museum-nya 🙁
    Pas aku 2015 ke Purwakarta Sri Baduga belum ada air mancurnya juga, lagi renovasi jadi nggak liat 🙁 Yuk ah ke sana lagi liat air mancur Sri Baduga

  4. Ahahhaha aku cuma bisa ngakak baca blpgpost ini, ingat kegemasan aku pada Mba2 kesayangan yang maunya jalan bentar terus makan. Oke ini trip harus dicatat di rekor MURI sebagai trip dengan peserta paling sedikit dan paling banyak jajan

  5. Aduh aku ketawa-ketawa bacanya, apalagi bagian nonton dari hape sama curhatan cpnya, serta kehaluan mbak Nunik di bangku penonton. Terus sekarang jadi laper kebayang sate maranggi, jadi pengen cuss ke Purwakarta

  6. Sepertinya Bidadari Taman Sari private trip kuliner ke Purwakarta ya ini? Perjalanan kemanapun bersama sahabat akan terasa menyenangkan ya mbak. Jadi bayangin gimana ya jika trip Bidadari ini trip nanjak2 cantik, seru juga nih…

  7. Purwakarta dkt bgt sih dr Jakarta tapi blm jadi pilihan warga DKI sbg weekend gate away ya. Padahal kulineran emak2 juga sepertinya. Saya cuma pernah makan sate meranggi aja😁

  8. Seru banget sih kalian. padahal Purwakarta deket sama Bekasi tapi saya belum pernah jelajah sana, hanya numpang lewat saja. Next bakal jadi bucked list saya.

  9. aku pernah main ke purwakarta juga tapi beda destinasi nih mba dew. Dulu aku main ke gunung parang sama waduk jatiluhur dan main ala-ala roller coaster di sana :p

  10. Mbak Dewi, bulan lalu aku ke Purwakarta karena si Adik pengin ke waduk Jatiluhur, eh tutup karena ada kunjungan Presiden Jokowi esok harinya..kecewa deh.
    Baca ini jadi nambah itinerary kalau ke Purwakarta lagi..berarti musti nginep aja enaknya ya..Biar puas kelilingnya.

  11. Haha gokil sih karna tutup jadiny nonton video air mancur sei baduga di hp 🤣 . Emng deh klo pergi ke suatu tempat udh jauh2 ternyata tutup rasanya tuhh kecewa bgt campur kesel hihi

  12. wah, seru banget ya jalan-jalannya. bacanya jadi ngakak terus kak.. hehe.. yang lebih seru itu bukan perjalanannya, tapi kebersamaannya.. seru buat refresh aktivitas sehari hari

  13. sama mbak dewi wkwkkw debit air nya ga kenceng karena musim kering terus jadinya jalan2 disekitar alun-alun jajannya murah2 kayak diklaten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *