All, Arts

Jemparingan – Panahan Tradisional Sebagai Sarana Olah Jiwa

jemparingan - setyodewi.com 6

Adakah di antara teman-teman  yang belum pernah mendengar tentang jemparingan?  Kalau panahan mungkin tahu ya? Nah, jemparingan itu panahan juga, tetapi panahan tradisional, warisan kesultanan Mataram.  Dulu, jemparingan hanya dimainkan oleh keluarga kerajaan atau bangsawan. Juga prajurit kerajaan. Mereka melatih ketajaman konsentrasi dengan melakukan jemparingan. Jemparingan lebih banyak dimainkan oleh masyarakat di Yogya yang sudah familiar dengan seni memanah tradisional ini. Dengan semakin eksisnya olah raga panahan di kalangan kids zaman now, maka olah raga jemparingan pun bisa semakin luas dikenal. Bahkan di Yogya sering digelar perlombaan jemparingan dan terdapat komunitas yang mewadahi kegiatan ini.

Mengapa Jemparingan?

Sebagai sarana olah raga atau latihan fisik, panahan dan juga jemparingan tentu bermanfaat untuk melatih kekuatan fisik terutama lengan. Selain sebagai olah raga, jemparingan juga bisa menjadi salah satu sarana olah jiwa. Mengapa? Membidikkan jemparing atau anak panah akan melatih fokus dan konsentrasi. Jemparingan juga memerlukan ketenangan dan kesabaran dalam melakukannya, tidak terburu-buru. Yang diutamakan adalah rasa. Lama-lama ini akan membentuk karakter jiwa. Karena setiap mau membidikkan panah, ada kedamaian dalam batin. Hal ini mencerminkan bahwa dalam setiap tindakan dalam hidup kita diawali dengan ketenangan jiwa sehingga bisa mencapai hasil maksimal yang diharapkan.

jemparingan - setyodewi.com 11

Bagi umat muslim ada hadist Rasulullah yang menyebutkan “Ajari anakmu berenang, berkuda, dan memanah”. Dari sini dapat diartikan bahwa Rasulullah menganjurkan umat muslim untuk bisa melakukan  ketiga hal tersebut. Lebih jauh yang tersirat dari makna hadist tersebut adalah agar kita mempunyai kekuatan fisik yang baik (berenang), tangkas dan trengginas (berkuda), dan fokus (memanah). That’s why tak ada salahnya juga ya kita belajar memanah atau jemparingan.

Beda Jemparingan dan Panahan Biasa

Jemparingan adalah seni memanah klasik, ada juga yang menyebut panahan kuno ala Jawa.  Seni memanah gaya Mataraman ini memang berbeda dengan olah raga panahan yang biasa.  Dari sisi tujuan, teknik memanah, panah yang digunakan dan juga sasaran tembaknya. Tak seperti panahan biasa yang dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dengan duduk bersila. Berdasarkan referensi yang saya dapatkan, posisi  duduk ini dikarenakan dulu di lingkungan keraton jemparingan dilakukan sambil mengobrol santai. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa posisi ini adalah posisi saat memanah sambil berkuda, sehingga dilakukan dengan duduk.

This slideshow requires JavaScript.

Jarak tembak standar untuk jemparingan adalah 30m. Sasaran tembak berupa bandul/boneka yang bisa dibuat dari kain atau busa silinder dengan warna merah di bagian kepalanya. Point tertinggi adalah saat pemain berhasil membidik warna merah tersebut. Busur panah jemparingan terbuat dari kayu dan bambu. Berbeda dengan panah standar yang biasanya terbuat dari fiber. Ukurannya pun berbeda. Yang membuat jemparingan semakin klasik adalah pakaian tradisional yang dipakai. Pria memakai jarik, surjan dan blangkon, sedangkan wanita memakai jarik dan kebaya.

Filosofi Jemparingan

Jemparingan mempunyai tujuan dan filosofi tersendiri. Filosofi yang melekat pada kegiatan ini adalah falsafah hidup yang dicetuskan oleh Sultan Hamengku Buwono I yaitu sawiji/nyawiji (menyatu), greget (dinamis), sengguh (percaya diri) dan ora mingkuh (pantang menyerah). Menurut artikel yang saya baca, falsafah hidup tersebut mengandung arti yang dalam. Nyawiji atau menyatu dapat diartikan sebagai konsentrasi yang diarahkan ke tujuan tertentu, bermakna tujuan hidup atau cita-cita. Greget berarti dinamika dan semangat dalam menjalani hidup sesuai tujuan melalui jalan yang benar. Sengguh, percaya pada kemampuan untuk mencapai tujuan. Ora mingkuh artinya meskipun banyak hambatan, namun tetap tidak menyerah. Jemparingan memerlukan konsentrasi untuk bisa mencapai sasaran. Saat menarik tali panah dan merentangkan busur, dibutuhkan semangat atau harus punya greget. Kemudian si pemanah juga harus yakin bahwa ia mampu membidik sasaran dengan tepat. Dan jika pun gagal, diulang dan diulang kembali, tidak menyerah. Begitu luhur falsafah ini untuk diterapkan dalam hidup kita ya.

Jemparingan di Wulangreh

Beberapa waktu lalu saya main jemparingan di Wulangreh Omah Budaya , Pejaten, Jakarta Selatan. Sebagai penyuka hal-hal yang berbau lokal dan klasik, saya memang penasaran, apakah jemparingan sama dengan panahan yang biasa atau tidak.  Dan ternyata memang berbeda. Saya ikut kelas jemparingan yang diadakan Wulangreh pada hari Sabtu. Sore itu, hanya ada 3 orang peserta yang ikut. Saya, Ipang teman saya, dan satu lagi Mbak Widya. Tak lupa sore itu kami juga memakai kostum klasik ala jemparingan. Saya sudah siapkan dari rumah, kebaya lurik dan jarik. Buat Ipang, saya pinjamkan jarik dan baju surjan punya Bapak, haha. Kami memang disarankan memakai dresscode kain nusantara.

Kami diberikan briefing singkat tentang jemparingan oleh Pak Heydar dari Paseduluran Gendewa Nusantara BSD. Pak Heydar sendiri adalah pelatih atlet panahan nasional. Pak Heydar bercerita tentang sejarah singkat panahan dan juga filosofinya, yaitu fokus ke satu tujuan. Oleh Pak Heydar kami diajarkan bagaimana teknik main jemparingan, cara duduk bersila, cara memegang busur dan memasang anak panah (jemparing). Cara menarik tali busur juga ada teknik sendiri yaitu ditarik hanya dengan 3 jari, jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. Busur diarahkan ke kiri depan menuju sasaran, tali ditarik sampai posisi Ibu jari mendekati telinga. Kemudian mata memicing fokus ke sasaran. Karena dilakukan sambil duduk, kami diajarkan untuk mengincar sasaran beberapa cm di bawah titik target, agar saat busur dilesatkan akan tepat mengenai sasaran. Setelah dikira-kira sampai tarikan tali punya kekuatan penuh, baru tali dilepaskan. Kira-kira mudah apa susah? Hehe..

Kami pun akhirnya praktik jemparingan. Saat pegang busur panahnya, saya sih merasa busur panah ini lebih ringan dibanding panah standar. Tapi saat menarik talinya, duh beraat. Ah tidak seberat menanggung rindu sih. Hahaha. Dengan teknik memiringkan busur saat mau membidik sasaran, itu agak membuat lebih ringan.

Sore itu kami punya kesempatan membidik sebanyak 40 kali bidikan yang dibagi dalam 10 tahap atau rambahan. Setiap rambahan kami membidik 4 anak panah secara bergantian. Setelah masing-masing membidik 4, lalu kami ambil anak panahnya kembali bersama-sama. Pertama membidik, sasaran saya enggak kena. Jauh meleset. Sekar, kru dari Wulangreh yang mendampingi, terus menyemangati. Setelah beberapa kali membidik, jemparing sudah nangkring di papan meskipun belum terkena sasaran paling tengah.

This slideshow requires JavaScript.

Oh iya, untuk tahap awal kami pakai papan sasaran yang berbentuk bulat untuk kemudahan membidik. Jarak bidikan pun awalnya dibuat dekat dengan sasaran yaitu 6,5 m. Lalu digeser mundur seiring kemampuan kami memanah, gayaa.. haha. Kami sudah mulai bisa membidik sasaran tepat di tengah. Kalaupun melenceng, ya nggak jauh amat lah. Jarak bidik digeser ke 7,5 m, lalu ke 10 m dan terakhir 15 m. Pada jarak 10 dan 15 m, sasaran diganti dengan bandul. Ini lebih susah tentunya. Tapi inilah sasaran jemparingan yang sebenarnya. Tentu kami semakin merasa tertantang. Lengan sudah mulai pegal dan jari terasa kapalan. Hehe.. Oleh Mas Anda Wardhana, pamong dan pemilik Wulangreh, kami diberikan tambahan slot bidikan sampai 60 kali. Tak selesai di sore hari, kami lanjutkan sampai malam. Kami pun merasakan memanah di malam hari. Memang beda, rasanya lebih tenang, hening, dan fokus.

Main jemparingan di Wulangreh asik banget. Santai. Kami bisa berhenti dulu untuk minum atau makan, lalu lanjut lagi. Tak ada patokan harus selesai jam berapa. Saya sendiri sudah dua kali main jemparingan di sana. Yang kedua kalinya, saya main lagi untuk yang suplemen (tambahan) dengan hanya 15 bidikan saja. Kelas jemparingan di Wulangreh diadakan tiap sabtu, sedangkan untuk suplemen bisa kapan saja.

Insight

Saya pribadi banyak belajar dari main jemparingan ini. Saat melesatkan anak panah dan enggak kena, maka harus bersabar dan mencoba lagi. Saat kena mendekati atau tepat ke sasaran, jangan terlalu berteriak gembira juga, agar tidak menjadi sombong. Jemparingan mengajarkan rendah hati,  juga bisa sebagai sarana melepas emosi yang tidak baik keluar dari dalam diri. Dari Pak Heydar saya juga mendapat insight bahwa jika kita sudah fokus ke satu titik tujuan, stick with that. Kata Pak Heydar, seprofesional apa pun main panahan itu akan ada masanya kita juga merasakan sakit di tangan. Maksudnya adalah, jika sudah fokus ke satu tujuan hidup, maka meskipun sakit dan ada hambatan apa pun, akan tetap dijalani, demi tercapainya tujuan. Bagi saya, jemparingan benar-benar menjadi sarana olah jiwa dan pembelajaran karakter.

 

Yang penasaran, ayo main jemparingan bareng. Saya mau deh menemani. Hehehe..

Tagged , ,

57 thoughts on “Jemparingan – Panahan Tradisional Sebagai Sarana Olah Jiwa

  1. Wahh aku dulu kuliah di jogja tinggal di jogja tapi baru tau jemparingan 🤦‍♀️ , padahal tau dan pernah lewat omah budaya tapi ya ga pernah mampir, jadi nyesel dulu ga main-main ke omah budaya hhe

  2. Benar-benar olahraga yg mengolah jiwa, karena banyak mengandung falsafah/pelajaran hidup..
    Kena banget.. Terutama di bagian harus fokus.. Karena saya orang nya moody banget..
    Makasih sudah berbagi informasi nya Mbak Dewi.. Semoga saya bisa mencoba Jemparingan.. 🙂

  3. Kebetulan ada teman dari sastra jawa yang sempat cerita tentang jemparingan. Sebagai non jawa saya sangat terkagum-kagum dengan kedalaman filosofinya yang melewati batas suku. Saya sampai bertanya kepada orang tua, kegiatan fisik yang sekaligus memperhalus jiwa, di kebudayaan kami.. apa ya? Salut untuk mbak dewi yang turut mempertahankan olahraga dan jiwa seperti jemparingan.

  4. Saya mengenal kosakata bahasa s
    Sunda Jamparing artinya panah, dan kini mengenal aktivitasnya dalam bahasa Jawa yakni memanah. Itu mempertahankan posisi duduk aja susah apalagi memanah yaa. Nilai filosofisnya juga luar biasa.

  5. Wah di wulangerah omah budaya lagi ya mbak dewi. Tampaknya mbak dewi sering sekali ke sana yaa.
    Btw bicara hadits, dari apa yang disunahkan Rasulullah SAW, ketiganya aku ga ada yg bisa (memanah, berkuda, maupun berenang). Sad

  6. Posisinya harus banget duduk kah mbak dewi? Atau hanya karena targetnya pendek makanya duduk? Kalau memang duduk, pasti punya kesulitan tersendiri ya dalam membidik targetnya. Btw, keren banget ya mbak dewi. 😍😍😍

    1. Khusus untuk jemparingan memang dilakukan dengan duduk. Posisi yang rendah akan lebih ngena, karena yang diutamakan adalah mengolah rasa. Jadi bukan karena sasaran yang pendek. Ehm, ga begitu susah sih karena ada tekniknya. Oh ya itu duduk bersilanya pake batu ya atau bisa juga kursi kecil, jadi ga langsung menyentuh tanah, duduknya jadi stabil.

  7. Nilai falsafah tinggi sekali ya mba. Aku lagi mulai tertarik juga sama olahraga panahan mba. Kapan-kapan mau dong mba aku ikut jemparingam atau panahan.

  8. mbak asal mula kata jemparingan dari bahasa apa ya? dan kenapa rata-rata yang ikut cewek? apakah ada hubungannya sama tokoh Srikandi memanah?

  9. Wah menarik banget Kak, apalagi filosofi dan pemaknaannya dipaparkan dengan dalam. Aku sambil nyanyi juga baca tulisannya hehe..

    terus fokus.. satu titik..
    titik itu kita kejar dan raih bintang..

  10. Keren Kak, apalagi filosofi dan pemaknaannya dipaparkan dengan dalam. Sambil baca tulisannya aku nyanyi hehe..

    terus fokus
    satu ttitik
    titik itu kita kejar
    dan raih bintang

  11. filosofinya itu loh mbak, bkin merinding. Segala dlm hidup harus diawali dengan ketenangan batin makanya haskinya akan maksimal. merasa tertampar

  12. Baru dengar iatilah jemparingan. Belajar panah tradisional ini jadi berasa ada dijaman kerajaan. Berasa lagi belajar buat jadi kesatria.
    Selalu dapat pengetahuan tentang budaya Jawa nih kalau mampir ke nlognya Mba dlDewi. Love it 😘

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *