All

1 Jam di Buperta

For the first time I am looking in your eyes
For the first time I’m seeing who you are
I can’t believe how much I see
When you’re looking back at me
Now I understand why love is…
Love is… for the first time…
[For The First Time – Kenny Loggins]

“Aku hanya ada waktu satu jam ya, jam 12 sampai jam 1 siang” Itu sms yang kuterima darimu saat kaukabarkan bahwa kau akan ke Jakarta dan mengajakku bertemu. Aku senang kau akan datang. Tak pernah terbayangkan. Rasanya seperti cerita-cerita dalam cerpen yang pernah kubaca. Sahapat pena yang akhirnya bisa kopi darat. Masih mending kalau kopdarnya sudah tahu akan bertemu dengan orang yang mana. Nah ini kita sama-sama tidak tahu. Mungkin ini yang disebut blind date. Ah kita sih bukan sahapat pena. Saling berkirim email iya, tapi ya biasa saja lah. Eh tapi mungkin cerita tentang kita juga bisa dibuat cerpen sih, atau sinetron? Lebay!

Hari itu 9 Februari. Deg-degan? Pasti. Sejak perkenalan kita gara-gara email yang tiba-tiba masuk ke emailku 2 tahun sebelumnya, aku tidak pernah tahu seperti apa rupa dirimu. Aku menganggap perkenalan kita adalah hal biasa, layaknya pertemanan dengan orang-orang biasanya. Tak ada yang istimewa. Bagiku berteman dengan orang jauh ya tidak masalah. Aku juga punya beberapa teman jarak jauh. Bisa berbagi cerita, saling tukar info, meski hanya via email. Namun memang berteman denganmu agak lain. Entah kenapa intensitas berkirim emailnya lebih sering dibanding dengan teman-temanku yang lain. Saat itu kirim email harus ke warnet. Jadul banget kan. Jadi tiap beberapa hari sekali, aku  sempatkan ke warnet selain untuk browsing karena keperluan kuliah, juga untuk cek email darimu. Mungkin kalau saat ini, orang berkenalan bisa langsung melihat profil orang yang baru dikenalnya, baik via foto profil di akun sosial media maupun dari profil akun di handphone. Namun kita? Sama sekali tidak pernah tahu kecuali jika saling berkirim foto. Tetapi itu tidak kita lakukan. Entah apa alasannya. Mungkin waktu itu kita rasa tidak penting. Kau juga tidak memintaku mengirim foto, aku pun begitu pula sebaliknya. Rasa penasaran pasti ada, namun ya sudahlah.

Apa kau masih ingat saat pertama kali kita bertukar nomor handphone? Itu karena sesuatu yang boleh dibilang agak darurat sehingga memaksa untuk harus memberi tahu nomor hp masing-masing.  Sama halnya dengan foto itu tadi, kalo niat dari awal bertukar nomor hp, mestinya bisa, lalu kita bisa sms atau telepon dan tidak perlu kirim-kiriman email.  Saat itu kau berbaik hati mengirimiku sebuah buku sebagai hadiah untukku. Ndilalah bukunya tidak sampai, malah balik lagi ke alamatmu. Kemungkinan Pak RT di lingkunganku belum tahu kalau aku tinggal di daerah situ, maklum anak rantau baru di Jakarta. Kau langsung berkirim email dan mengabarkan kalau paketnya balik lagi. Wah! Dan di akhir emailmu itu kau sebutkan, tolong hubungi nomor ini jika ada apa-apa. Hmm.. Ok, I got your number.

Kedatanganmu ke Jakarta karena kau terpilih mewakili propinsi Aceh menjadi salah satu dari 10 anggota kontingen Indonesia di ajang Korea-ASEAN Youth Exchange Program yang diselenggarakan oleh National Council of Youth Organizations di Korea Selatan. Acara akan berlangsung di kota Seoul dan Yongpyong selama kurang lebih 10 hari. Tiga hari sebelum keberangkatan, kau sudah mendarat di Jakarta dan seluruh kontingen dikumpulkan untuk karantina di Bumi Perkemahan Cibubur. Di sana kau dan team berkoordinasi, dibimbing dan berlatih seni. Di antara jadwal yang padat itulah kau sempatkan untuk mengundangku bertemu, meski hanya 1 jam.

Pertemuan itupun tiba. Aku datang bersama temanku, maklum aku kurang begitu tahu daerah Cibubur. Dan juga takut jika nanti canggung bertemu denganmu maka aku perlu teman. Kami menaiki angkutan umum dari daerah Cawang. Sehari sebelum pertemuan itu aku sudah membayangkan bagaimana pertemuan kita.  Sudah aku reka-reka wajahmu seperti apa. Pagi harinya kau kirim sms  “Aku pakai baju kaos yang ada tulisannya Seulawah ya.” Lalu kubalas “Ok, aku pakai jilbab warna biru”. Itu saja penanda buat pertemuan kita. Setiba di sana, kau menjemput kami di gerbang masuk Bumi Perkemahan. Setelah perkenalan singkat, kau ajak kami menuju sebuah beranda masjid. Kita pun mengobrol bertukar cerita. Lebih banyak tentang keberangkatanmu ke Korea, dari yang awalnya tiba-tiba dapat telepon dari Kementerian Luar Negeri, ikut seleksi dan akhirnya terpilih. Pertemuan berjalan biasa saja, meskipun kau terlihat canggung, sehingga kata-kata yang kau ucapkan terdengar sangat resmi di telingaku. Logat melayumu masih sangat kental. Sesekali kau tawarkan kami minuman dan makanan ringan yang ternyata kau bawa langsung dari Aceh sebagai bekal.

Tak terasa 1 jam berlalu. Kau ungkapkan rasa senang bertemu denganku. Aku pun sama. Karena kita sama-sama tidak menyangka, setelah 2 tahun berteman dan hanya menjalin komunikasi via email tanpa pernah tahu rupa wajah masing-masing.  Akhirnya aku dan temanku pun pamit. Kau juga harus bergegas karena masih ada tugas untuk mengkoordinir barang bawaan kontingen, sebelum keberangkatan di malam harinya. Sebelum beranjak, kau memberiku sebuah amplop, kau bilang sebagai kenang-kenangan. Ah, aku juga, aku punya sebuah amplop untukmu. Amplopmu tipis, amplopku agak tebal. Hehe.. Setelah bertukar ‘cinderamata’ kita pun mengucapkan salam perpisahan. Entah kapan bisa bertemu lagi.

Kesan mendalam aku dapatkan dari pertemuan itu. Dari email-email yang kau kirimkan untukku pun aku tahu kalau kau orang yang baik. Dan pertemuan itu jauh lebih menguatkan pendapatku. Aku tidak tahu apa yang kau rasakan setelah itu.  Ah itu tidak penting, yang penting pertemanan kita tetap terjalin baik. Sedangkan yang kurasakan? Kasih tahu enggak ya? Mungkin beberapa baris lirik lagunya Kenny Loggins ini sudah cukup menggambarkannya.

Can this be real, can this be true
Am I the person I was this morning
And are you the same you
It’s all so strange, how can it be
All along this love was right in front of me..

couple 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DS, 23 Oktober 2017
photo courtesy: Google

 

0 thoughts on “1 Jam di Buperta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *