Review Buku: I Know You – Miss Hiday

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree it will live its whole life believing that it is stupid.” –Albert Einstein

Ini Gue Banget

Saya adalah tipe orang yang maunya banyak. Belum selesai ngerjain satu hal, udah pengen yang lain. Pengen ini dan itu, pengen belajar ini itu. Rasanya semua hal itu menarik buat dipelajari dan dilakukan. Suatu ketika pengen belajar bikin craft, kali lain pengen belajar fotografi. Belum tuntas yang satu, udah pengen lagi yang lain. Duh! Dan sepertinya, semua hal itu bisa saya lakukan. Tapi kok jadinya kurang fokus. Bisa ngerjain apa aja, tapi kayak nanggung, setengah-setengah. Sampai dulu sempat bingung, saya itu bagusnya jadi apa ya? Bagusnya mendalami apa?

Di sisi lain saya juga sadar, saya merasa bisa melakukan banyak hal, bisa multitasking. Lalu saya sangat suka diberi atau mengambil peran. Saya juga merasa sangat mudah beradaptasi di suatu lingkungan baru, ga gampang kagok. Cenderung suka hidup yang tenang, damai, simpel, ga neko-neko. Dan apa pun yang membuat saya bahagia, itulah yang saya lakukan. Satu lagi, saya sangat suka dekat dengan orang. 🙂

Ini kenapa jadi kayak curhat ya..hehe. Tapi tipe-tipe kayak saya ini memang ada lho. Terlebih setelah baca buku I Know You karya Miss Hiday ini. Semua yang saya sebutkan di awal tulisan ini benar-benar persis seperti yang saya rasakan. Saya lebih disadarkan akan sifat-sifat saya setelah baca buku tersebut. Dari judulnya saja buku ini memang bener-bener ‘know me’.  Saya jadi lebih tahu detail, secara personality saya itu kayak apa orangnya.  Seperti cara berpikir saya yang cenderung mengedepankan naluri (insting). Ternyata saya punya indera ketujuh lho! Indera ketujuh atau mata ketiga (third eye). Nah lo apaan tuh! Ya, firasat yang lebih tajam tanpa harus berpikir lama. Dan ini memang beberapa kali saya alami.  Hal-hal yang terlintas di pikiran dan kemudian benar-benar terjadi. Semacam wangsit yang dianugerahkan kepada saya. Tapi ga parah-parah amat lah, belum bisa sih kalau disuruh meramal kayak dukun, mungkin kalau ramalan kayak Dilan sih bisa, haha!

Dari buku ini juga disebutkan bahwa orang seperti saya itu responnya spontan. Kadang enggak mikir panjang langsung bereaksi. Ini yang bikin saya enggak suka basa-basi, to the point, maunya cepat, apa adanya, dan juga senang berpindah fokus dari satu hal ke hal lainnya. Memang iya jadi mudah ter-distract, namun di satu sisi, refleks yang cepat ini bisa sangat membantu terutama untuk hal yang sifatnya urgent. Seperti saat teman saya meminta bantuan untuk mencarikan donor darah bagi kerabatnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Saat itu stok darah di PMI habis. Saya langsung kontak sana-sini, nge-tweet ke akun PMI pusat dan PMI daerah, Blood4life, share info ke beberapa grup Whatsapp, dan alhamdulillah mendapat respon yang lumayan cepat juga. Peran yang cepat ini sangat membantu juga dalam hal menolong orang lain.

Pemaparan secara spesifik sifat-sifat saya tersebut sesuai dengan personaliti genetik yang sudah diidentifikasi sebelumnya yang disebut juga dengan mesin kecerdasan. Nah untuk mesin kecerdasan ini, saya memang sudah pernah melakukan tes sebelumnya. Dan dari penjelasan dalam buku ini sesuai mesin kecerdasan tersebut, memang ga salah kalau saya katakan bahwa ya, ini gue banget!

STIFIN – Mesin Kecerdasan (MK)

Mesin Kecerdasan (MK) yang dijelaskan dalam buku ini adalah mesin kecerdasan berdasar konsep STIFIN, yang dalam perkembangan penemuannya disempurnakan oleh Pak Farid Poniman dengan menambahkan satu jenis mesin kecerdasan baru. Pak Farid adalah seorang peneliti di bidang pengembangan diri, yang pada akhirnya juga meneliti tentang belahan otak manusia. Nama STIFIN sendiri adalah singkatan dari masing-masing MK, yaitu S-Sensing, T-Thinking, I-Intuiting, F-Feeling, dan In-Insting. Masing-masing MK tersebut menunjukkan tipe personaliti genetik berdasar belahan otak mana yang dominan. Ternyata ada 5 belahan otak manusia dan masing-masing orang bisa berbeda belahan otak mana yang dominan ia gunakan. Kalau saya sendiri, hasil tes menunjukkan bahwa MK saya adalah Insting, di mana belahan otak yang dominan adalah otak tengah (otak reptil), dan belahan otak lain prosentasenya sama, sehingga ini yang membuat saya  cenderung serba bisa. Nah sifat-sifat si Insting sudah saya share sebagian di awal tulisan ini. Kira-kira penasaran ga dengan MK lainnya? Hehehe..  Kalau dari gambar di bawah ini, temen-temen  bisa tebak enggak  MK temen-temen apa? Kalau penasaran, bisa baca buku ini lebih lanjut dan lakukan tesnya. Ups, bukan iklan.

Sebenernya apa gunanya tahu MK kita? Dengan tahu MK ini, kita bisa memahami diri sendiri, bisa tahu sifat-sifat mendasar, sisi kekuatan dan kelemahan kita, bagaimana kita merespon dan berinteraksi, cara belajar yang efektif, profesi yang sesuai, bahkan bisa untuk cari jodoh sesuai dengan MK yang pas. MK yang pas di sini bukan yang sama, tetapi ada MK tertentu yang sifatnya sebagai pendukung bahkan penakluk MK lainnya sehingga kalau berjodoh akan saling mendukung sesuai karakter masing-masing. Contohnya MK Feeling menaklukkan Thinking, Insting dibikin klepek-klepek oleh Sensing.

Di buku ini, digambarkan secara detail masing-masing MK , karakter, kiat komunikasi, cara belajar, pola belajar, ciri-ciri fisik, motivasi, kaliberasi (cara refreshing) dan kemistri (harta, tahta, cinta, kata, bahagia). Orang Sensing selalu menggunakan sense, berpikir dengan panca indera, ingatannya kuat, sangat rajin, dan kemistrinya mengejar harta. Si Thinking adalah orang yang sangat logis dan rasional, kritis, mengejar tahta dan kaliberasinya berupa wisata alam. Si Intuiting adalah orang yang kreatif, penuh imajinasi, suka “menerbangkan” kata, dalam berkomunikasi suka dengan pengandaian, berpikir ke masa depan. Mereka juga easy going, tidak baperan dan cara refreshing-nya adalah tidur. Hehe.. Orang Feeling itu ramah, penuh perasaan dan emosi, kemistrinya cinta, cenderung sensitif, lebih banyak belajar dengan mendengar, story teller yang baik, pengikutnya banyak. Nah kalau orang Insting kayak saya, kemistrinya bahagia, harta nomor sekian, hehe, dan kaliberasinya adalah silaturahmi dadakan. Jadi kalau mau ajak saya ketemu atau main, mending dadakan aja, it will refresh my mind. Haha.

Parenting

Setelah paham dengan masing-masing karakter, yang tak kalah penting adalah bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, baik bagi diri sendiri, komunikasi dengan pasangan, pola pengasuhan anak (parenting), dsb.  Kalau pernah tahu ada istilah malpraktik yang biasanya ada di dunia medis, maka bisa saja lho terjadi dalam hidup sehari-hari. Orang tua pun bisa malpraktik bila salah dalam mendidik anak. Buku I Know You ini sangat lengkap ulasannya tentang parenting, bagaimana menjadi orang tua sukses mulia, yang senantiasa berkomunikasi dengan bahasa cinta kepada orang tercinta. Dibahas pula tentang uniknya seorang anak. Seperti quote Albert Einstein yang saya tulis di awal. Artinya apa? Bahwa setiap anak itu unik dan istimewa, jangan paksa ikan untuk terbang dan jangan paksa burung untuk berenang. Lalu tahunya anak itu ikan atau burung gimana? Orang tuanyalah yang paling tahu. Kenali anak dengan memahami karakternya, sehingga orang tua bisa tahu bagaimana berkomunikasi dengannya, membimbing belajarnya, mengarahkan hidupnya. Buku ini juga membahas bagaimana pengasuhan anak dengan menggunakan konsep mesin kecerdasan. Masing-masing anggota keluarga diidentifikasi terlebih dulu MK-nya apa. Setelah itu ditentukan siapa yang menjadi parent leader-nya (bisa ayah atau ibu), yang akan menentukan arah dan membuat keputusan strategis dalam membangun tim di dalam keluarga. Masing-masing orang tua dengan MK-nya dan anak dengan MK-nya juga dipetakan kombinasi hubungan dan pola asuhnya.

Buku setebal 327 halaman yang ditulis oleh Miss Hiday, seorang psikolog, pengajar di sebuah sekolah, dan juga Direktur STIFIN Institute ini, benar-benar mengupas tuntas tentang bakat dan kecerdasan, menunjukkan kita bagaimana memahami diri dan orang lain terutama keluarga, bagaimana mengoptimalkan kelebihan dan meminimalisir kelemahan. Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang sederhana namun sangat detail, recommended untuk dibaca dan dijadikan panduan dalam membangun diri dan membangun keluarga sukses mulia. Hanya satu saja yang menurut saya kurang dari buku ini, dengan sangat detailnya penjelasan dan menyangkut sisi teknis, mungkin agak sulit dimengerti oleh orang yang betul-betul awam tanpa adanya penjelasan secara langsung.

Aya Aoyagi – Gambaran Antusiasme Warga Jepang terhadap Gamelan

“It’s an ordinary to Indonesian society, but for me it’s beautiful, so natural, and I am very comfortable in listening gamelan”.

Begitu ujar Aya Aoyagi – san, seorang warga Jepang yang sangat menyukai musik gamelan, saat saya menanyakan bagaimana pendapatnya tentang musik gamelan Jawa. Seni karawitan Jawa memang sangat disukai oleh sebagian besar orang Jepang. Saya bersyukur bisa mengenal Aya dan punya kesempatan untuk diskusi dengannya tentang ketertarikan dan antusiasmenya bermain gamelan. Sore itu kami pun ngobrol santai di Bentara Budaya Jakarta, sebelum latihan dimulai.

Aya Aoyagi hijrah ke Indonesia sekitar 2 tahun yang lalu, mengikuti suaminya yang bekerja di salah satu perusahaan Jepang di Jakarta.  Anak perempuannya turut serta, sedangkan anak laki-lakinya tetap berada di Jepang karena masih kuliah di Tokyo. Pada tahun pertama berada di Jakarta, kesibukan Aya hanya mengurus keluarga dan seluruh kegiatan anaknya yang bersekolah di salah satu SMA internasional. Hingga akhirnya kesibukan bertambah dengan menjadi Head of Community of Japanese Students di sekolah anaknya. Di sela aktifitasnya tersebut, ia juga belajar Bahasa Indonesia untuk keperluan percakapan sehari-hari, terutama percakapan untuk bepergian naik kendaraan umum.  Aktifitas Aya yang lain adalah mengajar bahasa  Jepang di salah satu institusi bisnis di Jakarta yang sering memberangkatkan stafnya ke Jepang, dan juga memperkenalkan budaya Jepang kepada mereka. Selain itu ia juga menjadi volunteer teacher di salah satu SMA di daerah Pondok Indah Jakarta Selatan. Satu lagi aktifitasnya adalah menjadi volunteer di salah satu majalah (free magazine) sebagai pelaksana untuk event-event tertentu. Lumayan sibuk juga ya.

Pertama kali Aya mendengar alunan gamelan adalah saat hadir di salah satu pameran di Jakarta Convention Center (JCC). Di Jepang, Aya justru belum pernah mendengar musik tradisional jawa ini sama sekali.  Saat itu Aya sudah terkesan dengan ritme musik gamelan yang membawa ketenangan dan kelembutan. Ketertarikannya dengan gamelan baru muncul setelah 1 tahun di Jakarta. Bermula dari grup komunitas warga Jepang yang ada di Jakarta yang ternyata juga punya grup gamelan bernama grup Sakura. Grup Sakura berlatih rutin setiap Sabtu di salah satu  sanggar tari dan gamelan di Jakarta Selatan, Sanggar Puspatarini. Aya pun bergabung dengan grup Sakura dan menjadi salah satu anggota aktifnya.

Terbentuknya grup Sakura ini cukup unik juga. Salah satu anggota komunitas Jepang kebetulan ada yang tinggal di Apartemen Bumi Mas Jakarta Selatan yang berseberangan dengan sanggar tersebut.  Setiap hari Kamis malam, dari apartemennya tidak sengaja ia mendengar alunan musik gamelan.  Di sanggar ini setiap Kamis malam memang ada komunitas yang mengadakan latihan wayang kulit. Para dalang se-Jakarta Selatan berlatih wayang secara bergantian. Tentu saja diiringi dengan gamelan, lengkap dengan para sindennya. Dari situlah akhirnya komunitas warga Jepang tersebut berhasil mendapat kelas khusus untuk latihan bermain gamelan.

Aya cukup aktif bermain gamelan seminggu sekali setiap Sabtu pagi. Bersama teman-temannya sekitar 10 orang, mereka adalah batch ke-5 di kelas gamelan grup Sakura. Anggota batch sebelumnya sebagian besar sudah kembali ke Jepang. Grup mereka diketuai oleh Takuma-san. Pelatih mereka, Pak Basir, adalah seorang guru karawitan Jawa yang sangat aktif berkesenian. Pak Basir tidak hanya mengajar mereka, namun juga di beberapa kelas karawitan untuk anak sekolah.  Meskipun terkadang tidak semua anggota grup bisa hadir latihan mereka tetap semangat. Ada kalanya mereka membawa serta anak-anak mereka yang masih kecil dan anak-anak itu pun ikut berlatih. Salut!

20170916_172012Foto seusai berlatih

Saya sendiri enggak nyangka bisa mengenal Aya.  Waktu itu saya ikut workshop gamelan yang  diadakan salah satu komunitas gamelan di Jakarta, Samurti Andaru Laras dan kebetulan bertempat di sanggar di mana Aya berlatih. Aya dan beberapa orang temannya datang karena diajak oleh Pak Basir yang melatih sesi workshop. Kami latihan bersama. Seusai latihan, kami pun ngobrol santai. Singkat cerita saya dan dua orang teman lainnya yang saat itu memang sedang mencari komunitas gamelan akhirnya diizinkan untuk bergabung ke kelas Sakura. Setiap sabtu pun saya ikut latihan di sanggar. Kami memainkan gending Jawa bentuk lancaran atau ladrang yang sederhana karena ada sebagian pemain masih pemula. Aya cukup fasih memainkan bonang. Sepertinya ia memang mudah sekali memahami nada-nada dan notasi. Barangkali kemampuannya bermain piano juga sedikit banyak berpengaruh dalam merasai melodi gamelan. Saat baru pertama kali memegang alat musik gamelan, Aya bermain kenong. Sesekali Aya bermain saron juga. Bergantian saat salah satu dari kami berlatih memainkan bonang. Biarpun latihan tidak selalu dengan formasi lengkap, namun lagu yang kami mainkan tetap dapat dinikmati.

Dalam sesi latihan, Aya selalu antusias. Meski tak jarang kena omelan Pak Basir karena lupa apa yang sudah diajarkan sebelumnya. Aya pribadi yang lucu. Kalau sedang dimarahi Pak Basir, ia hanya mengangguk-anggukkan kepala dan berkata “haik! haik!” sambil tertawa. Kami pun tidak bisa menahan untuk tidak ikut tertawa. Read More …

Rindu yang Tak Berujung Temu

Puisi yang kauseduh untukku, bersambut pilu, tak berujung temu.-

Ingin kusambut, rindumu yang menggelayut, namun harapku fana, asaku sirna.-

Andai ku bisa datang menjenguk rindumu, kan kuhabiskan cangkir sepimu.-

Kita adalah sepasang rindu yang terbelenggu, hingga luruh tak mungkin berlabuh.-

Kusisipkan harap dalam penantianmu, agar tak retak candi rindumu.-

Maaf ku tak bisa menyuburkan semi cintaku, biarlah harapanmu mendekap gundahku.-

Usah kau resahkan airmata ini, derainya kan tetap hidupkan mimpi.-

Ingin kudekap erat mimpimu, di kedalaman waktu yang tlah lalu.-

Adaku dalam cemas rindumu, merintihkan tangis piluku.-

Sungguh kukira cinta kita kan bersatu, pun jua pupuh rindumu.-

Kutahu pedih yang kauadukan pada rembulan, relung kalbuku tersayat tak tertahankan.-

Cangkir puisiku telah penuh, siap untuk kau seduh, karena jalan yang kautempuh menghabiskan peluh.-

Kutahu betapa dalam cintamu apa dayaku semua hanya beradu bisu.-

Bagiku rindumu sudah cukup mengobati perihku, dalam alunan sajakmu yang syahdu.-

Aku menikmati sajak rindumu, penghibur keresahan hatiku.-

Dalam doa-doa yang kupanjat, kuingin merengkuh api rindumu yang menyala hangat.-

Takkan kubiarkan sajakmu bermuara di pusara, sementara aku bisa menjadi pelipur lara.-

Pada bait-bait pintamu padaNya, kubisikkan kata, semoga takdir kita menyatu di langitNya.-

Bagaimana senjaku bisa menyala sempurna, jika rindumu tak terucap dalam kata.-

Aku sudah berhati-hati, namun hatiku tetap jatuh..padamu.-

Air mata ini memang tak sanggup kutahan, maafkan aku membuatmu larut dalam kesedihan.-

Lekatkan namaku di sudut puisimu, hingga rindu itu terbalas satu demi satu.-

Rindu pun tak berkutik pada waktu, apapun wujudnya akan tetap berlalu.-

Sayang ku tak bisa menyelamatkan rindumu yang tenggelam di dasar hatiku.-

Kusiapkan bejana di mataku untuk menampung lelehan rindumu.-

Jika masing-masing kita adalah secangkir kopi, manis cintaku untukmu dan hangat rindumu untukku.-

Cemasmu dalam diam, hanya bisa membuatku mencekam.-

Aku tahu cintamu yang tak kenal masa, namun hanya doa yang bisa menentramkan rasa.-

Hujan yang turun di mataku, karena ku tak bisa menyambut rindumu.-

Biarlah ku hanya menjelma dalam ingatanmu, karena lidahku kelu tak mampu ucapkan rindu.-

Karena rindu yang tak jua berujung temu, sang dalang pun ragu akan kisahmu denganku.-

Dan segala sesuatu tentang rindu, adalah kamu.-

————

DS 3 November 2017  #Sajak

 

1 Jam di Buperta

For the first time I am looking in your eyes
For the first time I’m seeing who you are
I can’t believe how much I see
When you’re looking back at me
Now I understand why love is…
Love is… for the first time…
[For The First Time – Kenny Loggins]

“Aku hanya ada waktu satu jam ya, jam 12 sampai jam 1 siang” Itu sms yang kuterima darimu saat kaukabarkan bahwa kau akan ke Jakarta dan mengajakku bertemu. Aku senang kau akan datang. Tak pernah terbayangkan. Rasanya seperti cerita-cerita dalam cerpen yang pernah kubaca. Sahapat pena yang akhirnya bisa kopi darat. Masih mending kalau kopdarnya sudah tahu akan bertemu dengan orang yang mana. Nah ini kita sama-sama tidak tahu. Mungkin ini yang disebut blind date. Ah kita sih bukan sahapat pena. Saling berkirim email iya, tapi ya biasa saja lah. Eh tapi mungkin cerita tentang kita juga bisa dibuat cerpen sih, atau sinetron? Lebay!

Hari itu 9 Februari. Deg-degan? Pasti. Sejak perkenalan kita gara-gara email yang tiba-tiba masuk ke emailku 2 tahun sebelumnya, aku tidak pernah tahu seperti apa rupa dirimu. Aku menganggap perkenalan kita adalah hal biasa, layaknya pertemanan dengan orang-orang biasanya. Tak ada yang istimewa. Bagiku berteman dengan orang jauh ya tidak masalah. Aku juga punya beberapa teman jarak jauh. Bisa berbagi cerita, saling tukar info, meski hanya via email. Namun memang berteman denganmu agak lain. Entah kenapa intensitas berkirim emailnya lebih sering dibanding dengan teman-temanku yang lain. Saat itu kirim email harus ke warnet. Jadul banget kan. Jadi tiap beberapa hari sekali, aku  sempatkan ke warnet selain untuk browsing karena keperluan kuliah, juga untuk cek email darimu. Mungkin kalau saat ini, orang berkenalan bisa langsung melihat profil orang yang baru dikenalnya, baik via foto profil di akun sosial media maupun dari profil akun di handphone. Namun kita? Sama sekali tidak pernah tahu kecuali jika saling berkirim foto. Tetapi itu tidak kita lakukan. Entah apa alasannya. Mungkin waktu itu kita rasa tidak penting. Kau juga tidak memintaku mengirim foto, aku pun begitu pula sebaliknya. Rasa penasaran pasti ada, namun ya sudahlah.

Apa kau masih ingat saat pertama kali kita bertukar nomor handphone? Itu karena sesuatu yang boleh dibilang agak darurat sehingga memaksa untuk harus memberi tahu nomor hp masing-masing.  Sama halnya dengan foto itu tadi, kalo niat dari awal bertukar nomor hp, mestinya bisa, lalu kita bisa sms atau telepon dan tidak perlu kirim-kiriman email.  Saat itu kau berbaik hati mengirimiku sebuah buku sebagai hadiah untukku. Ndilalah bukunya tidak sampai, malah balik lagi ke alamatmu. Kemungkinan Pak RT di lingkunganku belum tahu kalau aku tinggal di daerah situ, maklum anak rantau baru di Jakarta. Kau langsung berkirim email dan mengabarkan kalau paketnya balik lagi. Wah! Dan di akhir emailmu itu kau sebutkan, tolong hubungi nomor ini jika ada apa-apa. Hmm.. Ok, I got your number.

Kedatanganmu ke Jakarta karena kau terpilih mewakili propinsi Aceh menjadi salah satu dari 10 anggota kontingen Indonesia di ajang Korea-ASEAN Youth Exchange Program yang diselenggarakan oleh National Council of Youth Organizations di Korea Selatan. Acara akan berlangsung di kota Seoul dan Yongpyong selama kurang lebih 10 hari. Tiga hari sebelum keberangkatan, kau sudah mendarat di Jakarta dan seluruh kontingen dikumpulkan untuk karantina di Bumi Perkemahan Cibubur. Di sana kau dan team berkoordinasi, dibimbing dan berlatih seni. Di antara jadwal yang padat itulah kau sempatkan untuk mengundangku bertemu, meski hanya 1 jam.

Pertemuan itupun tiba. Aku datang bersama temanku, maklum aku kurang begitu tahu daerah Cibubur. Dan juga takut jika nanti canggung bertemu denganmu maka aku perlu teman. Kami menaiki angkutan umum dari daerah Cawang. Sehari sebelum pertemuan itu aku sudah membayangkan bagaimana pertemuan kita.  Sudah aku reka-reka wajahmu seperti apa. Pagi harinya kau kirim sms  “Aku pakai baju kaos yang ada tulisannya Seulawah ya.” Lalu kubalas “Ok, aku pakai jilbab warna biru”. Itu saja penanda buat pertemuan kita. Setiba di sana, kau menjemput kami di gerbang masuk Bumi Perkemahan. Setelah perkenalan singkat, kau ajak kami menuju sebuah beranda masjid. Kita pun mengobrol bertukar cerita. Lebih banyak tentang keberangkatanmu ke Korea, dari yang awalnya tiba-tiba dapat telepon dari Kementerian Luar Negeri, ikut seleksi dan akhirnya terpilih. Pertemuan berjalan biasa saja, meskipun kau terlihat canggung, sehingga kata-kata yang kau ucapkan terdengar sangat resmi di telingaku. Logat melayumu masih sangat kental. Sesekali kau tawarkan kami minuman dan makanan ringan yang ternyata kau bawa langsung dari Aceh sebagai bekal.

Tak terasa 1 jam berlalu. Kau ungkapkan rasa senang bertemu denganku. Aku pun sama. Karena kita sama-sama tidak menyangka, setelah 2 tahun berteman dan hanya menjalin komunikasi via email tanpa pernah tahu rupa wajah masing-masing.  Akhirnya aku dan temanku pun pamit. Kau juga harus bergegas karena masih ada tugas untuk mengkoordinir barang bawaan kontingen, sebelum keberangkatan di malam harinya. Sebelum beranjak, kau memberiku sebuah amplop, kau bilang sebagai kenang-kenangan. Ah, aku juga, aku punya sebuah amplop untukmu. Amplopmu tipis, amplopku agak tebal. Hehe.. Setelah bertukar ‘cinderamata’ kita pun mengucapkan salam perpisahan. Entah kapan bisa bertemu lagi.

Kesan mendalam aku dapatkan dari pertemuan itu. Dari email-email yang kau kirimkan untukku pun aku tahu kalau kau orang yang baik. Dan pertemuan itu jauh lebih menguatkan pendapatku. Aku tidak tahu apa yang kau rasakan setelah itu.  Ah itu tidak penting, yang penting pertemanan kita tetap terjalin baik. Sedangkan yang kurasakan? Kasih tahu enggak ya? Mungkin beberapa baris lirik lagunya Kenny Loggins ini sudah cukup menggambarkannya.

Can this be real, can this be true
Am I the person I was this morning
And are you the same you
It’s all so strange, how can it be
All along this love was right in front of me..

couple 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DS, 23 Oktober 2017
photo courtesy: Google

 

Sabtu Seru Bersama Kubbu!

Pertama tahu nama Kubbu agak terdengar aneh bagi saya, kok namanya kebalikan dari kata buku. Ternyata Kubbu adalah sebuah klub di bidang literasi, Klub Buku dan Blogger.  Bernaung di bawah komunitas Backpacker Jakarta, Kubbu banyak mengadakan kegiatan tentang kepenulisan, sesuai mottonya 3M: Membaca, Menulis, Menginspirasi. Salah satunya pada Sabtu 14 Oktober kemarin, bertempat di Auditorium Perpustakaan Nasional, Kubbu mengadakan diskusi santai tentang menulis dan menerbitkan buku bersama Nunik Utami.  Dihadiri oleh hampir 60 orang anggota Kubbu dan non Kubbu, acaranya sangat asyik. Saya sendiri termasuk peserta dari non Kubbu. Sebenarnya sih  yang lebih membuat saya berminat karena setelah diskusi ada explore ke perpustakaan nasional, yang memang saya sudah sangat penasaran dengan gedung perpustakaan baru tersebut, ngaku! Namun karena isi acaranya sangat menarik, saya pun jadi semakin terinspirasi untuk bisa nulis, syukur-syukur nantinya bisa jadi penulis aktif yang punya karya best seller. Aaamiiiin.

Diskusi Santai Penulisan dan Penerbitan Buku

Bertemu Mba Nunik Utami, ya baru pada saat acara ini. Entahlah apa saya kurang gaul atau apa, saya ga pernah tahu sebelumnya Mba cantik yang sudah menerbitkan lebih dari 50 buku dan ratusan cerpen ini. Ga nyangka juga beliau seorang mantan artis cilik jaman old di acara tv lenong bocah. Bersama 2 moderator yang sangat fasih membawakan acara, Mas Achi dan Bang Eka, Mba Nunik dikilik-kilik berbagai pertanyaan seputar penulisan buku, mulai dari pengalamannya saat pertama kali menulis di tahun 2006 hingga kini. Kami para peserta pun juga diberikan kesempatan untuk bertanya sehingga diskusi makin hidup.  Ada pancingan hadiah juga sih dari panitia, jadi pada semangat nanya 🙂 .

IMG_0027 edit

Mba Nunik banyak memberikan tips seperti langkah-langkah awal penulisan, editing, sampai pada proses penerbitan bukunya. Berbagai trik menembus penerbit juga disampaikan oleh narasumber kece ini, salah satunya sering-sering cek penerbit itu butuhnya naskah apa, sering ikut lomba untuk menambah portfolio menulis, dan beberapa do and don’ts.  Disampaikan beliau juga bahwa 1 naskah tidak boleh dikirim ke lebih dari 1 penerbit. It’s not ethical!

Selain teknik menulis, attitude pun tidak kalah penting.  Aha yang saya dapet adalah menulis harus dengan penuh keikhlasan, menulis ya menulis aja dulu, ga usah pikirin akan dapat apa, toh rejeki nanti mengikuti. Dan juga jaga attitude dalam menulis, hindari sebisa mungkin tulisan negatif, nyinyir ga penting di media sosial,  karena itu akan memperburuk citra penulis.

IMG-20171014-WA0037

Overall, diskusinya keren, ditambah lagi dengan sharing pengalaman juga dari para moderator, jadinya asik, enjoy banget dan sangat inspiratif. Terimakasih Kubbu!

Explore Perpustakaan Nasional

Nah ini yang ditunggu-tunggu, keliling perpustakaan nasional, perpustakaan tertinggi di dunia yang baru diresmikan Presiden Jokowi bulan September lalu. Saat pertama memasuki lobby gedung perpustakaan ini, cuma bisa bilang w.o.w.! Lobbynya luas dengan langit-langit yang tinggi. Terdapat rak buku raksasa yang menjulang dari lantai 1 ke lantai 4. Ini nih penampakannya.

IMG_0007

Sudah terkagum-kagum sama rak setinggi itu, pas menengadah ke atas, kita akan melihat peta Indonesia dari bagian bola dunia, di bagian langit-langitnya. Keren kan!

IMG_0096

Di beberapa sudut lobby bisa kita temui beberapa pajangan dan buku tentang para Presiden RI, lalu ada 1 layar komputer besar berisi peta dari google earth yang bisa kita geser-geser (touch screen). Direktori gedung pun ada di lantai ini. Gedung perpusnas ini juga sangat ramah anak, lansia dan penyandang disabilitas. Di sudut lantai 2 saya lihat ada kursi roda yang disediakan. Dilihat dari direktorinya, ada lantai khusus yang melayani koleksi untuk mereka yakni di lantai 7.

IMG-20171014-WA0024

Oiya, perpustakaan ini dibuka setiap hari Senin – Sabtu, jam 9 – 16. Sebelum acara diskusi dimulai, saya menyempatkan diri untuk mencoba mendaftar sebagai anggota Perpusnas.  Di ruang pendaftaran banyak disediakan komputer yang dilengkapi dengan thermal printer untuk mencetak  nomor antrian. Proses pendaftaran pun cukup simple, kita input data di komputer, print nomor antrian, lalu menunggu dipanggil untuk difoto.  Setelah itu kita langsung mendapatkan kartu anggota. Ada 4 loket untuk  pengambilan foto dan kartu anggota, namun karena weekend, ramai sekali yang mendaftar. Saya dapat antrian nomor 63 dan rasanya ga keburu kalau harus menunggu karena acara diskusi juga sudah akan mulai. Ok deh, skip dulu, kapan-kapan bisa balik lagi.

Gedung perpusnas terdiri atas 24 lantai, kita pun boleh ke lantai mana pun. Eskalator hanya bisa digunakan sampai lantai 4 saja, selebihnya harus menggunakan lift.  Berlokasi di  Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta Pusat, setiap lantai di perpusnas memberikan suguhan pemandangan yang ok banget, karena langsung menghadap ke Monumen Nasional. Di setiap lantai ada balkon yang bisa memanjakan kita untuk sekedar duduk-duduk atau selfie. Kebetulan auditorium yang kami pakai untuk acara diskusi ada di lantai 4. Dari ketinggian ini pun viewnya sudah sangat indah.

Bersama para peserta diskusi, kami menuju roof top  di lantai 24 dan langsung ke balkon. Subhanallah,  kita bisa langsung melihat Monas dan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Pokoknya selfiable dan instragramable deh! Kami pun berfoto bersama. Saya ga kalah excitednya untuk ambil beberapa foto. Di lantai 24 ini ada ruang khusus VIP untuk presiden, dilengkapi ruang duduk santai yang langsung menghadap ke Monas. Asik banget kan, baca buku, viewnya Monas, sambil duduk di kursi santai, jadi betah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan wahai para pecinta buku? 🙂

IMG_0058

Setelah puas menikmati view dari lantai 24 dan melihat buku-buku budaya di lantai tersebut, saya pun turun ke lantai 22 untuk melihat buku-buku umum. Koleksi buku di perpusnas ini sangat lengkap dan beragam. Menurut info yang saya dapat, ada 2,6 juta buku, termasuk koleksi buku langka, naskah kuno dan koleksi mancanegara. Ada pula  koleksi foto, peta dan lukisan.

Selain baca buku, bisa juga kita manfaatkan ruang duduk di Perpus ini sebagai co-working space alias tempat kerja. Tinggal bawa laptop, duduk manis. Colokan listrik pun tersedia untuk charge laptop atau hp.  Pokoknya nyaman banget deh buat kerja dan baca.

ruang baca3

ruang baca2

So, teman-teman, yang penasaran sama perpustakaan nasional, langsung cuss lah. Ga ada salahnya nongkrong di perpus, ga ada yang tahu juga kok kalo kamu pura-pura sibuk baca buku sebagai pelarian abis ditinggal mantan, ups! Satu lagi, siapa tahu ketemu jodoh deh disana. Kayak saya, awal mula jodoh bertemu gegara salah satu majalah di perpus. Haha.. Ini nantilah ceritanya, tunggu saja episodenya, insyaAllah tayang!

DS, 17 Oktober 2017 00:42